Serba-serbi

Ciptakan Enterpreneur Muda di Rumah Digital

Orangtua merupakan sahabat pertama bagi anak, untuk mengenal komputer dan internet
Orangtua merupakan sahabat pertama bagi anak, untuk mengenal komputer dan internet

ANAK biasanya menjadi perhatian utama bagi setiap orangtua. Perhatian itu pun sudah dimulai semenjak  menanti kelahiran, memasuki masa tumbuh kembang, tahap-tahapan pendidikan, bahkan hingga memikirkan masa depan dari si anak. Tak terkecuali bagi saya, yang  dikaruniai seorang buah hati.

Dan meskipun sebagai orangtua, kita sebaiknya tak memaksa anak untuk menjadi apa kelak, tapi tak ada salahnya kalau saya punya harapan untuk anak saya bukan?

Yah, memang masih terlalu dini untuk membahas masa depan anak saya yang baru berusia 1,5 tahun. Tapi jujur saja, saya memang punya harapan supaya anak laki-laki saya ini kelak bisa menjadi seorang pengusaha. Terserah pengusaha bidang apa, yang penting bisa jadi enterpreneur dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Padahal, itu sih keinginan si ibu yang belum kesampaian sampai sekarang (^_^)

Menjadi enterpreneur sebenarnya bukan hal yang sulit di masa sekarang. Siapa saja bisa melakukannya, asalkan mau berusaha. Ditambah lagi dengan dukungan gadget di tangan dan koneksi internet, berbagai pilihan jenis usaha, bisa saja dilakukan dari rumah.  Siapa saja bisa menjalankan bisnisnya secara online dan bisa mengembangkan bisnisnya hingga menembus pasar global. Target pasar yang disasar pun bisa semakin meluas. Bisa melakukan penjualan untuk pasar dalam negri hingga diekspor ke luar negri.

Apalagi sistem belanja online sudah menjadi tren masa kini (*juga masa depan). Ratusan website bermunculan, dan jejaring sosial dipenuhi iklan-iklan produk dan jasa. Masih kurang menjangkau target pasar, lihat saja iklan di televisi. Meskipun modal promosinya terbilang besar tetapi tak sedikit toko online yang berani memasang iklan di sana.

Pertumbuhan internet marketing di Indonesia pun, luar biasa pesat sejak tahun 2011.  Pengamat e-commerce Andi S.Boediman mengatakan, pada tahun 2012, potensi transaksi bisnis online mencapai 19 juta transaksi dengan nilai US$ 478 juta atau setara Rp 5 triliun.

Jumlah itu merupakan nilai transaksi untuk barang saja, tidak termasuk kebutuhan lain seperti tiket penerbangan atau reservasi hotel. Ia juga memperkirakan, pada tahun 2014, jumlah dan nilai transaksi akan melejit lagi hingga mencapai 28 juta transaksi senilai US$ 776 juta.

Kondisi ini tak hanya terjadi di Indonesia. Dikutip dari http://www.dailymail.co.uk, pada awal 2013 terjadi peningkatan sebesar 20 persen untuk transaksi penjualan online di Inggris. Bahkan disebutkan kalau hal itu mengancam kelangsungan usaha 5.000 toko dan bisa menyebabkan 50.000 orang kehilangan pekerjaan.

Memang menjamurnya toko online dan tawaran jual beli melalui jejaring sosial sangat diminati konsumen. Mereka tak perlu repot kepanasan, kehujanan, atau kena macet di jalanan. Tinggal duduk manis dengan laptop/pc/gadget di tangan lalu ‘klak-klik’ saja untuk memilih barang. Pembayaran juga bisa dengan mudah dilakukan secara online.

Pasar potensial untuk internet marketing juga masih terbuka lebar karena semakin banyak penduduk Indonesia yang ‘melek’ internet. Indonesia Internet Survey 2013 yang dibesut oleh Merketeers bersama MarkPlus Insight menyimpulkan pengguna internet mencapai 74 juta orang atau 28 persen populasi Indonesia. Di tahun 2015 nanti, jumlah pengguna internet diperkirakan melewati 100 juta orang. Sebagian besar pengguna internet merupakan Netizen asli. Sebutan itu untuk menggambarkan orang yang menghabiskan hidupnya di dunia maya lebih dari tiga jam setiap hari.

Riset yang sama menunjukkan bahwa pengguna internet terdiri dari berbagai kalangan. Sebagian besar netizen di Indonesia berasal dari kelompok umur di bawah 30 tahun. Sedangkan 16 persen lainnya berusia di atas 45 tahun.

* Konsep Rumah Digital TelkomLogo Indi Home

POTENSI pasar di dunia maya masih terbuka lebar di masa depan. Baik itu pasar dalam negri maupun pasar luar negri. Sehingga tak ada salahnya jika kita sebagai orangtua, mulai membekali si kecil untuk mengenal dan memanfaatkan teknologi internet secara ‘sehat’. Sekaligus juga membekali si kecil untuk mulai mengenal bisnis internet. Tentunya harus secara bertahap, sesuai tingkatan umurnya.

Konsep rumah digital yang ditawarkan Telkom, merupakan salah satu jawaban bagi kebutuhan orangtua masa kini. Solusi kebutuhan digital life style dalam sebuah rumah yang dikemas Telkom dalam berbagai paket layanan. Meliputi fasilitas telepon rumah, internet speedy, dan Internet Protocol Television (IPTV).

Untuk berselancar di dunia maya, terdapat internet Speedy dan wifi. Speedy ini adalah layanan akses internet broadband dari Telkom Indonesia yang menghantarkan sinyal digital berkecepatan tinggi melalui jaringan telepon secara optimal. Kecepatan Speedy mulai dari 512 Kbps sampai dengan 5 Mbps.

Dengan menyediakan koneksi internet di rumah, maka kita bisa lebih mudah memantau  anak dalam berselancar di dunia maya. Bahkan sekali-kali, tak ada salahnya jika orangtua berinternetan bersama dengan anak-anaknya. Jadi bisa mengawasi pola internetan anak, tanpa disadari si anak tersebut.

Fasilitas lainnya adalah UseeTV Cable atau layanan siaran tv kabel menggunakan akses internet (IPTV- Internet Protocol Television).  TV Kabel ini mengajak pelanggan untuk lebih aktif, dan tak sekedar menerima tayangan begitu saja. Pelanggang dapat memilih konten yang sesuai kebutuhan.

Tentunya ini fasilitas yang cocok untuk keluarga yang ingin memberikan tayangan positif bagi anak-anak di rumah. Siaran televisi melalui IPTV ini juga bisa menjalani proses pause, rewind dan playback. Jadi pelanggan dapat menikmati siaran ulang pada 7 hari yang lalu.

Masih ada lagi fasilitas Home Monitoring yang bisa melakukan fungsi pengawasan kondisi rumah menggunakan ip camera melalui website telkomspeedy. Juga tersedia Home Automation atau layanan otomatisasi berbagai fasilitas di rumah seperti on/off lampu, buka tutup pintu dan lain-lain secara remote.

Semua itu merupakan fasilitas penunjang gaya hidup modern yang bisa dimanfaatkan untuk membekali buah hati kita dengan informasi positif. Menariknya lagi, semuanya itu bisa dilakukan di dalam rumah sendiri.

Tapi masih ada kekurangan dan sistem ini, yakni cakupan areanya. Meskipun fasilitasnya lengkap dan menarik, sayangnya IndiHome belum mencakup seluruh area di nusantara. Tentunya menjadi pekerjaan rumah dari Telkom Indonesia untuk bisa mengembangkan IndoHome hingga ke seluruh pelosok daerah lain di Indonesia. Sehingga impian keluarga untuk memiliki fasilitas di dalam rumah, bisa terwujud.

Seperti yang dikatakan OVP Consumer Marketing Sales Telkom Jemy V Confido usai Penandatanganan Kerja Sama Program Merah Putih Telkom-Trend Micro di Jakarta beberapa waktu yang lalu. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) secara agresif, telah memasarkan paket produk IndiHome sejak pertengahan 2013 ini dan berupaya menarik 100 ribu lebih pelanggan. Perseroan juga menargetkan bisa mendapat 1 hingga2 juta pengguna IndiHome pada tahun depan.

Langkah yang sejalan dengan komitmen Telkom untuk mewujudkan akses internet bagi 20 juta pelanggan di seluruh Indonesia pada 2015. Sehingga dapat mewujudkan masyarakat digital Indonesia yang mumpuni di era globalisasi.

* Latihan Enterpreneur Sejak Dini

IMPIAN orangtua untuk memiliki anak seorang anak yang menjadi pengusaha bukan sesuatu yang muluk, di era globalisasi sekarang ini. Impian itu sangat wajar karena semakin hari, lapangan pekerjaan akan semakin sulit diperoleh.

Karenanya penanaman jiwa enterpreneurship sejak usia dini menjadi salah satu solusi untuk menggerakkan perekonomian serta kemampuan bersaing di pasar global. Ditambah lagi dengan peluang menjadi entrerpreneur yang masih terbuka lebar.

Rasio entrepreneur di Indonesia terhadap jumlah penduduk baru sebesar 1,6 persen. Jumlah pengusaha Indonesia tercatat hanya sekitar 3,9 juta dari total 240 juta penduduk. Angka ini di bawah standar minimum sebesar 2 persen sebagai syarat untuk menjadi negara yang perekonomiannya lebih maju. Padahal negara maju saat ini rata-rata memiliki rasio entrepreneur terhadap jumlah penduduk di atas 5 persen.

Jadi wajar kalau orangtua ingin anaknya mampu memiliki jiwa enterpreneue dan membuka lapangan usaha. Apalagi saat ini sudah banyak terbukti bahwa pengusaha (enterpreneur) bisa memberikan tingkat hidup yang sejahtera.

Akan tetapi keinginan orangtua ini harus didukung dengan pembekalan terhadap buah hatinya. Misalnya dengan memberikan latihan atau pendidikan kewirausahaan sejak dini, sesuai tingkatan umur anaknya.

Seperti pernah diungkapkan pakar marketing, Rhenald Kasali Ph.D dalam sebuah situs online, “Untuk menjadi entrepreneur sejati, yang berperan bukan hanya bakat. Seseorang terbentuk bukan karena genetika semata, namun juga karena pengaruh interaksi dengan lingkungannya. Manusia menjadi sesuatu bukanlah secara by nature, melainkan by murture.”

Lalu seperti apa sih pelatihan enterpreneur sejak dini. Berikut ulasannya:

1. Mengenalkan konsep uang

Uang merupakan faktor penting bagi seorang pengusaha. Karenanya sejak kecil, anak harus mulai belajar mengenal uang. Bukan uang sebagai alat pembayaran saja, akan tetapi juga belajar menghargai uang. Misalnya dengan mengajak anak untuk melakukan sesuatu terlebih dahulu sebelum ia diberi uang seberapapun nilainya.

2. Mencari informasi

Saat anak ingin membeli sesuatu, ajak ia untuk mencari informasi tentang barang yang diinginkannya. Informasi tentang harga, jenis, bentuk, dimana saja dijual dan lain sebagainya. Informasi di awal, bisa diperoleh secara lisan dari kita atau orang lain di sekitarnya. Apabila si anak sudah bisa menggunakan internet, bimbing untuk memanfaatkan internet. Ajarkan anak untuk kritis terhadap barang yang diinginkan, kalau perlu bisa dilatih untuk menawar harga (*apabila memungkinkan).

3. Belajar pinjam-meminjam

Proses pinjam-meminjam terkait dengan reputasi atau nama baik. Alangkah baiknya, hal tersebut juga mulai dikenalkan pada si anak. Yang paling sederhana adalah saling meminjam mainan bersama teman. Selalu awasi dan ingatkan anak untuk selalu mengembalikan barang yang dipinjam dari orang lain.

4. Belajar melalui permainan

Saat ini sudah banyak permainan (game online maupun offline). Pilih permainan yang mendukung anak untuk jeli dengan sebuah usaha. Misalnya game tata boga, dimana anak bermain memasak menu makanan lalu menyajikan di cafe untuk pembeli-pembeli yang datang. Ada juga permainan lama yaitu monopoli.Dalam permainan itu, anak tak sekedar bermain, namun juga menyusun strategi bisnis dan berinvestasi.

5. Jeli berbisnis dari hobi

Memulai usaha diperlukan kejelian untuk menangkap sebuah peluang. Maka si anak bisa dilatih untuk jeli melihat potensi bisnis dari kegemarannya. Misalnya anak hobi mengutak-atik mobil tamiya. Berikan mobil mainan yang harus dirangkai terlebih dahulu dan puji saat ia berhasil merakit sendiri. Ajak anak untuk belajar memperkirakan perubahan harga dari mobil sebelum dirakit dan setelah dirakit. Jika memungkinkan, sarankan anak untuk menjual pernak-pernik mainnya kepada teman-temannya. Sebagai langkah bijak, ajari anak untuk tidak mengambil keuntungan terlalu besar.

6. Libatkan dalam kegiatan bisnis orangtua

Bagi orangtua yang sudah memiliki usaha,sekecil apapun, libatkan dalam usaha tersebut. Paling sederhana, orangtua membuka usaha jual pulsa. Ajak si kecil untuk ikut melayani pembeli dengan ramah dan libatkan dalam proses jual beli. Misalnya minta si anak untuk menerima uang pembayaran dan memberikan uang kembalian.

Itu tadi beberapa tips melatih buah hati untuk memiliki jiwa enterpreneur sejak dini. Masalah si anak akan sesuai harapan kita atau tidak, jangan sampai menjadi beban kita sebagai orangtua. Karena biar bagaimanapun upaya setiap orangtua, anak tetap merupakan pribadi sendiri yang juga memiliki hasrat untuk berkembang menjadi apa.

(A Dwi Indrastuti/berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s