My Feature

Pengalaman Mandi dengan ‘Air Teh’

Warga memanfaatkan air bersih yang disediakan oleh salah satu perusahaan di Dumai

Warga memanfaatkan air bersih yang disediakan oleh salah satu perusahaan di Dumai

Hidup terpisah kota dengan suami, membuat saya harus sering mendengar saran orang-orang di sekeliling. “Kenapa mau jauh-jauhan. Ikut saja suami untuk tinggal di Dumai,” inilah salah satu saran teman.
Tapi aϑa juga tetangga yang paham dengan kondisi Dumai, memberi saran sebaliknya. “Ngapain pindah ke sana, airnya kotor,” gitu kata tetangga samping rumah.
Bicara tentang Dumai, memang air lah yang paling membekas di ingatan saya. Jadi ingat pengalaman pertama mandi di rumah kontrakan, rasanya ‘geli’
Bayangin saja, saya harus mandi dengan air yang warnanya seperti air teh. Hitam kecoklatan. Saking ‘geli’ akhirnya untuk gosok gigi harus menggunakan air galon yang beli di depot isi ulang. Butuh waktu hampir satu bulan untuk membiasakan menggunakan air sumur yang mirip air teh itu.
Dan akhirnya, saya pun terbiasa membersihkan badan dengan air sumur. Sedangkan untuk minum ϑan masak, tetap harus menggunakan air galon.
Sekarang, saya ϑan anak tinggal di Pekanbaru. Sedangkan suami masih tetap bekerja di Dumai. Artinya, suami pun tetap harus menggunakan air tersebut.
Seminggu sekali saat datang ke Pekanbaru, aϑa satu yang tak ketinggalan. Dia selalu membawa baju kotornya untuk dicuci di sini.
Mencuci baju juga menjadi polemik tersendiri. Dulu, sering kami menggunakan jasa laundry. Jarang mencuci sendiri karena khawatir warna bajunya akan berubah kecoklatan. Terlebih lagi untuk pakaian berwarna cerah.
Sebenarnya aϑa penjual air keliling yang setiap hari melintas di depan rumah kontrakan. Tapi saya tak pernah membelinya karena tidak punya bak penampung air.
Rata-rata rumah di Dumai memiliki bak penampung air. Baik untuk menampung air yang beli, atau bisa juga untuk menampung air hujan. Sayangnya, waktu itu kami belum memilikinya. Jadi air di rumah hanya air sumur dengan warna hitam kecoklatan ϑan air galon.
Mungkin akan dibilang berkhayal terlalu tinggi jika saya membayangkan, mendapatkan air bersih seperti di kampung halaman di Jogja. Tapi sah-sah saja jika punya harapan tinggi kan?!
Jika tak salah, sekitar 3 tahun yang lalu aϑa program pemasangan instalasi air di kampung Krasak, Jogja. Program itu dari PNPM Mandiri yang dilakukan dengan menyalurkan air dari beberapa sumur umum ke rumah-rumah warga.
Pada setiap sumur dipasang instalasi yang mirip dengan pengolahan air bersih dalam kemasan. Lalu disambung dengan pipa-pipa yang terhubung ke rumah warga. Untuk bisa menikmati air ini, setiap warga diminta mengumpulkan uang Rp 5.000/kepala/bulan. Uang ini akan digunakan sebagai kas untuk pemeliharaan.
Dengan aϑanya sumber air itu, akhirnya keluarga saya pun memutuskan untuk berhenti langganan air PDAM. Karena dapat air yang bersih, lebih dekat ϑan lebih murah bayarnya. Kualitas airnya pun juga bagus karena bisa juga langsung diminum.
Seandainya saja aϑa program serupa di Dumai, mungkin saya akan mempertimbangkan untuk tinggal lagi di sana. Nemenin suami sekaligus aϑa teman untuk ganti begadang nemenin anak hehehe…
Tapi kapan ya di Dumai bisa aϑa?
Tak perlu instalasi yang menghasilkan air siap minum. Yang penting bisa menghasilkan air bersih.
Dari baca berita, Pemko Dumai pernah memiliki program air bersih. Akan tetap program yang menelan anggaran hingga Rp 117 miliar itu tak kunjung terlaksana. Sekarang tak pernah dengar lagi kelanjutan program ini.

* Air Gambut Bisa Dikonsumsi
SEBAGIAN besar sumbur bor di Dumai sangat tidak layak untuk dikonsumsi karena terkontaminasi oleh gambut.
Seperti dilansir Kompas, masyarakat di lahan gambut berisiko mengalami gangguan kesehatan karena mengonsumsi air bersifat asam yang bisa membuat gigi keropos. Selain itu, air gambut mengandung zat organik ataupun anorganik yang bisa mengganggu metabolisme tubuh
Akan tetapi Science Center LIPI, Cibinong berhasil menciptakan Instalasi Pengolahan Air Gambut (IPAG). Alat ini telah dimanfaatkan oleh masyarakat Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, dan Kabupaten Bengkalis, Riau.
Prinsip kerja utamanya adalah dengan mengendapkan dan menyaring air gambut.
Air gambut diolah dengan cara koagulasi (diendapkan). Koagulan utama yang digunakan adalah alum sulfat dengan kadar bervariasi, tergantung kepekatan air gambut.
Koagulasi menghasilkan endapan yang ditampung dalam bak sedimentasi. Selanjutnya, air dialirkan untuk disaring dengan pasir silika dan antrasit.
Komposisi media penyaring disusun berdasarkan tingkat efisiensi proses koagulasi. Media filter memungkinkan terbentuknya biofilm mikroorganisme. Ini yang menguraikan polutan organik air gambut yang dialirkan.
Untuk menghilangkan bau, warna, dan rasa digunakan penyaring karbon aktif. Konsentrasi karbon aktif bergantung pada intensitas warna yang akan direduksi. Kemudian dilanjutkan dengan proses netralisasi tingkat keasaman air menggunakan soda ash. Untuk membunuh bakteri patogen di dalam air digunakan kalsium hipoklorit. Dan hasilnya, air gambut pun berubah menjadi air yang layak dikonsumsi.
Mungkin Instalasi Pengolahan Air Gambut (IPAG) dari LIPI ini bisa juga diaplikasikan oleh Pemko Dumai. Dimana satu mesin instalasi mampu memenuhi kebutuhan air bersih untuk 100 rumah tangga. Dengan begitu, ketersediaan air bersih bagi masyarakat Dumai tak sekedar impian semata, namun bisa menjadi kenyataan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s