Serba-serbi

Mereka, Remaja-remajaku

Beberapa waktu belakangan ini, saya memetik banyak pelajaran dari para manusia mungil yang saya jumpai. Saya sebut mereka mungil karena memang tubuhnya mungil. Mereka adalah siswa-siswa di tingkat SMP yang menjadi anak murid les privat saya.

Yang pertama, perempuan, baru kelas 1 SMP. Serasa dapat kejutan saat dia bertanya, “Kak, bagaimana caranya pakai kondom?” Saya tersentak dan berusaha putar otak untuk dapat menjawabnya.

“Kenapa kamu nanya begitu? Apa kamu tau, kondom itu apa?”

Sambil mencoret-coret kertas asal-asalan, dia jawab. “Belum pernah lihat, makanya nanya Kakak. Ada tuh temen yang pergi ke hotel sama pacarnya. Katanya biar gak hamil, mereka pakai kondom. Apaan kondom itu?”

Jawabannya sungguh membuat saya terkejut. Anak SMP bisa masuk ke kamar hotel dengan bebas? Di bumi Lancang Kuning ini? Yang konon kabarnya, sangat menjunjung marwah Melayu?

Penasaran dgn jawaban saya selanjutnya?

Hehehe… sudah pasti saya tak menjelaskan kepada anak murid itu ttg petunjuk pemakaian kondom kok.

Saya hanya jawab, “Tak percaya ah, mana boleh anak SMP masuk kamar hotel. Kalian masih kecil.” Dia sempat mau protes, tapi saya kembali lagi berkutat dengan pelajaran yg harus saya ajarkan.

Yang kedua adalah dua kakak adik, masih SMP juga. Di sela-sela pelajaran, tercetus sebuah topik tentang bahaya merokok. Lalu keduanya terlibat dalam perdebatan, salah satunya adalah merokok bisa menyebarkan penyakit HIV AIDS.
Si Abang bersikeras bahwa merokok bisa menularkan HIV AIDS, karena itu yang dikatakan teman-temannya. Tapi si Adik membantah. Perdebatan pun terus berlangsung, dan saya hanya tersenyum mendengar debat kecil antara si abang dan adiknya.

Oke, saya beri waktu 10 menit saja karena saya datang ke rumah mereka utk les pelajaran, bukannya memberi materi tentang seks education atau bahaya narkoba. Sedikit penjelasan bahwa merokok tak menyebarkan HIV AIDS tetapi menyebabkan penyakit lainnya, kami lalu melanjutkan pelajaran sore itu.

Dari kedua kasus itu, ada sesuatu yang menarik. Rupanya para pelajar SMP itu tak mau bertanya kepada orangtua masing-masing untuk mendapatkan informasi yang membuat mereka penasaran.

Bahkan anak murid yg pertama berpesan utk menjaga rahasia percakapan kami. “Jangan bilang-bilang sama bunda ya?” pinta anak itu.

Dan ternyata, mereka mendapat aneka info itu dari teman2nya di sekolah. Dari mereka yang sama-sama belum tau informasi sebenarnya.

Sangat ironis, para remaja ini tak mau percaya pada orang dewasa di sekitar mereka. Tapi memang seperti itulah masa remaja. Saat dimana mereka merasa lebih percaya teman dibandingkan orangtuanya sendiri.

Apa mereka salah?

Tentunya tidak. Mereka tidak bisa disalahkan begitu saja. Remaja ini membutuhkan orang-orang yang bisa mereka jadikan sahabat, kawan,  atau apapun sebutannya untuk saling berbagi cerita dan menggali informasi. 

Lalu kenapa sungkan untuk memilih orangtuanya sendiri, yang notabene sudah hidup bersama dengan mereka selama bertahun-tahun? Menurut saya, ini membutuhkan peran dari orangtua itu sendiri. Sudahkan mereka menempatkan diri sebagai sahabat bagi buah hati mereka yang masih remaja? 

Semoga saja tulisan ini bisa menjadi refleksi, minimal untuk diri saja sendiri🙂 yang bisa mengingatkan saya kelak, saat sudah memiliki anak di usia remaja

🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s