My Feature

Rendi, Kenalan Baruku

Aku baru aja dapat kenalan baru!!

Dan dia ini seorang pria ^_^

Penampilannya sederhana namun rapi. Tubuhnya hanya berbalut celana jeans hitam lusuh dan kaos, yang bagian bawahnya dimasukkan dalam celana. Rapi bukan?🙂

Sedangkan kakinya, hanya beralaskan sepasang sendal jepit.

Wajah pria ini memang tak terlalu tampan, tapi enak untuk dipandang. Ditambah lagi dengan seulas senyum yang tak pelit dibagikannya, membuatku tak cepat bosan memandanginya. Di samping itu, Ia juga ramah. Buktinya, ia langsung duduk sopan di depanku saat diajak bicara.

Namanya Rendi.

Aku berjumpa denganya di area Masjid Agung An Nur, Pekanbaru. Di area wifi (*tapi sepertinya sudah tak nyala lagi). Usianya baru delapan tahun dan masih tercatat sebagai siswa kelas 2 di sebuah SD negri di Pekanbaru (Rumbai).

Rendi adalah pria mungil yang berhasil menarik perhatianku. Ia datang dengan membawa sebuah baskom plastik berisi Lemang dan menjajakannya dengan harga Rp 1.000 per bungkus. Kami hanya membeli 2 bungkus, jadi hanya Rp 2 ribu saja.

Tapi Rendi tak langsung pergi setelah menerima uangnya. Tak seperti pedagang asongan biasanya.

Ia duduk bersimpuh di lantai keramik dan kami pun ngobrol agak panjang.

Rendi tinggal di Rumbai, jadi ia harus naik angkot untuk sampai di pusat kota ini. Ia anak bungsu dari delapan bersaudara. Tak sempat aku bertanya tentang orangtuanya. Tapi yang kutangkap, dia tak berasal dari keluarga berada.

Karena setiap hari bersama seorang abangnya, Rendi harus menjajakan Lemang di area Masjid Agung An Nur, Pekanbaru.

“Pagi sekolah dulu, siap sepulang sekolah jualan di sini. Saya ambil Lemang dari nenek,” ujarnya. Nenek itu bukan nenek kandungnya. Hanya panggilannya untuk nenek-nenek yang memasak Lemang dagangannya.

Uang hasil jualan, diberikan ke ibunya untuk membeli beras.

Sikap sarkartis tuntutan kerja sebagai jurnalis pun muncul.

“Tak percaya ah, kalau uang itu tak kamu pakai. Pasti ada yang dipakai untuk jajan atau beli mainan kan?” sanggahku.

Rendi membalas dengan senyuman dan kalimat yang sopan. “Semua uang dagangan ini untuk mamak, untuk beli beras. Uang jajan di sekolah cuma Rp 500 saja kok. Gak pernah beli mainan, cuma bisa beli satu makanan atau minuman saja,” jawabnya. Ia mengaku tak pernah beli mainan sendiri. Jika punya mainan, itu pasti dikasih orang yang kasihan.

Jawaban yang menurutku luar biasa. Anak seusianya, biasanya langsung protes dengan nada tinggi. Tapi Rendi tetap menjawab dengan tenang, tanpa memberi kesan minta dikasihani. Dan tetap sopan meskipun kami hanya membeli 2 bungkus Lemang-nya.

Kisah Rendi seperti de javu bagiku. Memang tak banyak yang pernah mengetahui kisahku ini. Saat masih SD, aku sempat menjadi pedagang asongan. Berkeliling menjajakan gelang dan kalung etnik di kawasan alun2 utara Jogja. Pada wisatawan yg berkunjung setiap hari libur. Atau menenteng bakpia, yangko, geplak dan makanan yang dijual ibuku di atas meja kecilnya, di kawasan alun2 itu juga.

Tapi ada beda antara aku dan Rendi.

Saat menjajakan dagangan, ada rasa malu berkecamuk di dada. Malu harus menjadi pedagang asongan. Malu harus naik turun bus-bus pariwisata dan dilihat anak-anak sebayaku. Sepertinya mereka mengolok-olok pekerjaanku. Dan malu…karena merasa jadi orang miskin.

Namun pria mungil yang baru saja kukenal itu tampak lain. Dia tetap menebarkan senyum manisnya, meskipun orang-orang tak membeli Lemang dagangannya.

Rendi adalah kawan belajarku hari ini. Memberi pelajaran tentang kerelaan dan tetap rendah hati dalam menjalani hidup ini.

Wiek

Pekanbaru, 17 April 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s