Informasi

Ketan, Kolak, Apem

Kolak Ketan Apem

Biasanya isi hantaran tradisi megengan dalam tradisi ruwahan tidak meninggalkan ketiga jenis makanan ini…yakni ketan, kolak, dan apem. Makna dari ketiga makanan itu adalah: ketan yang lengket merupakan simbol mengeratkan tali silaturahmi, kolak yang manis bersantan mengajak persaudaraan bisa lebih ‘dewasa’ dan barokah penuh kemanisan dan apem berarti jika ada yang salah maka sekiranya bisa saling memaafkan.

Bersumber dari http://psp.ugm.ac.id ….  dalam tulisan Ary Budiyanto, pemerhati Budaya Islam Jawa. Mahasiswa S3 Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS)-UGM, Yogyakarta.Staf Riset  PSP UGM……..

Ruwahan di bulan Sya’ban (atau Ruwah) dalam budaya Islam Jawa adalah tradisi yang selalu dilaksanakan sepuluh hari sebelum bulan Puasa (Ramadhan) menjelang.

André Möller dalam bukunya Ramadan di Jawa: Pandangan dari Luar(2005) mencatat dengan jelas bahwa ritus Jawa ini -yang selalu dituduh oleh kaum puritan sebagai satu dari banyak biang TBC (Tahyul, Bidah, Churafat) orang Islam Jawa- merupakan bentuk iman kesalehan individual dan kolektif.

Dievent ruwahan inilah sejumlah ritus digelar guna menyambut Ramadan: dari acara nisfu syaban, arak-arakan keliling kota, bersih desa yang diiringi slametan kecil lalu kenduren di malam harinya, kemudian esok paginya ziarah kubur, hingga berkahir pada acara padusan tepat di penghujung hari menjelang Puasa.

Semua rangkaian acara ruwahan ini bertolak dari keimanan pada Tuhan agar dalam hidup ini mereka yang tengah hidup di dunia mengingat akan asal-usulnya (sangkan paraning dumadi) yang secara biologis adalah mengingat leluhur yang melahirkan kita. Mengingat arwah leluhur dan merenungi kehidupan manusia yang sementara (fana) seraya berdoa untuk mereka yang telah mendahului merupakan inti dari tradisi nyadran (ziarah kubur) di bulan Ruwah ini.

Ini adalah pengejawahtahan dari hadis yang mengatakan bahwa satu dari amal yang tidak putus ketika orang telah meninggal adalah doa anak yang saleh.

ubo rampe

Adapun acara ritus bersih kampong, slametan, hingga kenduri serta megenganmeugang) adalah manifestasi dari paktik doa bagi semua keluarga sanak saudaranya yang masih hidup dengan saling bersilaturahmi, saling memaafkan dan membantu untuk siap memasuki ibadah puasa dengan rasa yang suci penuh suka cita menjadi kesadaran orang Islam Jawa.

Pada acara nyadran bebungaan ditaburkan di atas pusara mereka yang kita cintai, karena itu nyadran juga disebut nyekar (kirim-kirim hantaran makanan; yang di tradisi Aceh harus dengan daging: (menghantarkan bunga). Indahnya warna-warni bunga dan keharumannya menjadi simbol bagi orang Jawa untuk selalu mengenang semua yang indah dan yang baik dari diri mereka yang telah mendahului.


5 thoughts on “Ketan, Kolak, Apem

  1. @Teguy: ohya? wah masukan bagus, seiring berjalannya waktu….tradisi ini pun mengalami pergeseran makna ya. Tapi tetap satu yang sama, tetap bertujuan untuk mempererat hubungan manusia dengan Penciptanya
    @Heri: makasih Heri…selamat menyambut bulan Ramadhan..mohon maaf lahir dan batin…thx atas kunjungannya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s