Serba-serbi

Wawancara yang Berubah Jadi Ceramah

Ini bukan pertama kalinya saya harus mewawancarai seorang tokoh masyarakat maupun tokoh agama. Dari pengalaman mewawancara mereka itu, saya mendapatkan pelajaran yang berharga. Yaitu falsafah pohon padi, yang berbunyi “Makin berisi, makin menunduk” (*inget falsafah ini karena semalam abis curhat ma Ibal).

Tapi pengalaman yang satu ini terasa unik. Yah, unik versi saya seh.
Gini ni…sekarang ini kan ceritanya, saya lagi ditugasi buat ngisi rubrik Rising Star (*ntah apa pertimbangan dari bos-bos ne, kok kerjaan saya sekarang ne nulis profil anak dari TK ampe Kuliah mulu…every day).

Pas hari Minggu, topik yang mo diangkat tu adalah mahasiswa yang sudah menjadi da’i atau da’iah. Bersama partner di Rising Star, Dina, kami mencari mahasiswa di sini yang dah ngisi- ngisi ceramah di masjid.

Dapat banyak kandidat, tapi ternyata banyak da’i-da’i muda yang rendah hati. Mereka segan dipublik di media. Padahal dah dijelasin kalo ini utk rubrik pendidikan dan buat memberi ide ato pemikiran ke generasi muda lainnya. Bukan utk tujuan pamer-pameran alias show up.

Untung dapat juga, dua orang. Pas banget, satu cewe dan satu lagi cowo. Senangnya hatiku, jalan terbuka untuk tugas hari ini. Tapi, itu ternyata awal dari segala ke-BeTe-an selama satu harian.

Yang cowok, tak banyak kesulitan. Anaknya memang rendah hati dan kalimat-kalimannya daleeem banget. Ugh..terharu aku dengernya. Tugas yang ini bisa kami selesaikan dengan lancar tanpa banyak halangan. Dan di tugas-tugas sebelumnya juga tak banyak kesulitan. Paling-paling cuman nunggu ampe dua jam aja, dan beres dah.

Tapi yg satunya lagi ini kok rasanya lebih sibuk dari rektor ato guru besar di kampusnya. Secara, anak ini, sebut saja namanya Suci (*yg punya nama asli Suci jangan tersinggung ya, bukan nama sebenarnya kok), masih mahasiswa. Tingkat 3 atau 4 gitu dah. Tapi mau bikin janji ketemu kok susyeeeehnya minta ampun.

TP: Bisa kan kami wawancara sebentar? Tidak lama kok
SC: Wah, saya sibuk sekali. Besok saja ya?
TP: Sebentar saja kok, paling 10 menitan dah selesai. Tempatnya menyesuaian kamu kemana, nanti kami susul ke sana
SC: Oke deh, saya mau ke AN, kita ketemu di sana. Jam 11 sampai setengah 12 ya, jangan kelebihan karena saya sibuk sekali dan harus segera keluar kota
TP: Oke, sampai ketemu di sana
(klik)

Di waktu yg telah ditetapkan, pukul 11.00 WIB, saya sudah tiba di sana dan duduk sambil baca novel (*bosen ne baca koran terus).

menunggu

————————————
baca
————————————
———————————–
–celingukan liat kanan kiri—

———————————–
baca lagi
————————————
menunggu lagi

———————————-
Liat jam dah 12.00 WIB.

Busyet ne anak, katanya jangan lewat jam setengah 12.
Langsung deh telpon dia…..dan………..
Dengan santai dia bilang, tidak bisa datang. Ini catatan pembicaraan kami via HaPe

(Tuuuuuut…)
TP: Halo
SC: Ya, halo juga
TP: Kamu dimana sekarang? Kami sudah menunggu satu jam di sini
SC: Kok satu jam, kan janjiannya jam setengah 12 (*padahal pas telpon tuh dan jam 12 lewat loh, apa maksud kalimatnya tu ya)
TP: Iyah, kan tadi kamu bilang jam 11 sampai setengah 12, jangan sampai lewat. Ngajak ketemu di sini. Gimana ni?
SC: Maaf deh, saya tidak bisa datang karena nunggu jemputan mau keluar kota
****GUBRAAAKKKK****

Untuk selanjutnya, percakapannya diedit. Pokoknya anak tu kekeuh suruh kami datang kalo mau wawancara ma dia. Inilah mahasiswa yg paling merepotkan untuk diwawancara. Semoga hanya sekali ini aja deh…

Namun mengingat saat pelatihan dulu, para mentor mengajarkan sikap rendah hati (*halah), jadi saya pun menenangkan partner yg (*versi kartunnya) sudah keluar asap dari kuping kanan dan kirinya, untuk mengalah dan datang ke rumah anak itu.

Untuk membesarkan hati teman itu,saya keluarkan kata-kata, “Kita tunjukkan kalau kita lebih profesional daripada penceramah yg konon ceritanya dah keliling ke seluruh Riau itu.”
Ditambah lagi, “Kalau kita nggak mau, artinya kalah sama anak itu. Yuk, kita samperin. “

Dan ternyata kalimat saya “cukup” ampuh. Teman pun mau ke sana. (*Aslinya, lagi mentok nyari narsum yg lain, jadi dia aja yg diambil. Sekalian mau liat tampang anak belagu tuh kayak apa.)

Berangkatlah kami ke tempat tinggal Suci. Di perjalanan, kami sudah membayangkan bertemu dengan orang seperti apa. Pastilah jago ngomong (*atau jago ngeles ya)

Seperti perkiraan kami, ternyata mahasiswa salah satu PT di Pekanbaru itu pun bicara dengan gaya bak penceramah. Loh..loh..loh… kok sesi wawancaraku berubah jadi sesi ceramah gini. Untungnya cuman profil. Kalau untuk News Analysis, fiuuuhh…dengan berat hati saya menulis artikelnya.

Tips dari saya:
Kalau mau wawancara sama seorang penceramah, siapin hati dan jiwa untuk menerima siraman rohani. Lumayan lah, di tengah panas dan teriknya saat menjalani tugas peliputan, dapat kesegaran karena siraman rohani dari yg diwawancarai

3 thoughts on “Wawancara yang Berubah Jadi Ceramah

  1. luar biasa mbak, kesabarannya. kalo saya, mungkin sudah….grrrrr!!!!

    saya pernah lepas kontrol saat berhadapan dengan narsum yg belagu kayak gitu, tapi pejabat. saya hajar dalam pemberitaan (seharusnya gak boleh kan hehe).

    salam dari pontianak

  2. wekekeke….sebenernya saya pun dah emosi stadium 4 saat itu. Tapi pas lagi bawa junior, yah..itu-itung latihan sabat..gitu😉
    Makasih atas kunjungan tamu jauh…dari Pontianak

    1. yak, soal kesabaran itu, musti banyak belajar dari mbak deh. maklum, tribun pontianak kan masih baru, baru setahun lebih. hehe. di sini sebelumnya sempat ada zamzami (dia telah pergi ke …ah lupa). trus sekarang ada wira dan rodzi. sebelumnya sempat ada om zulharman, sir rinal.

      salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s