My Feature

Sampah, Warisan yang tak ada habisnya (1)

by Theo Rizky
by Theo Rizky

AGAKNYA memang pantas jika sebutan warisan yang tak ada habisnya, kita berikan pada sampah. Yah, sampah atau limbah di masyarakat seperti plastik pembungkus sering kali menjadi perbincangan karena banyak disadari sebagai warisan bagi anak cucu kita sekaligus beban bagi alam kita. Namun kesadaran itu tak sejalan dengan kesadaran masyarakat untuk ikut terlibat dalam daur ulang sampah.

Keprihatinan seperti itulah yang sampai kini dirasakan Soffia Seffen SH, pemilik usaha Dalang Production, binaan Pusat Pengelola Lingkungan Hidup (PPLH) di bawah Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) Regional Sumatera. Usaha yang dilakoni Soffia ini adalah pengolahan atau daur ulang sampah plastik sisa kebutuhan rumah tangga.

Sampai saat ini, Dalang Production ini masih menjadi satu-satunya usaha pengolahan sampah plastik yang ada di Riau, bahkan juga di Sumatera. Dan sebagai satu-satunya pemilik usaha daur ulang sampah plastik, upaya yang dilakoni Soffia tidaklah mulus.

Sejak awal memulai usaha ini, ia telah menemui berbagai rintangan. “Sebelum produksi ini lancar, kami sering dapat cemooh dari orang-orang. Bahkan keluarga binaan saya ada yang terus diejek karena mengerjakan barang yang telah jadi sampah. “Orang-orang banyak yang mencemooh pekerjaan kami, tapi setelah saya bawa anggota untuk mengisi pelatihan ke Pangkal Pinang, barulah muncul kembali rasa percaya dirinya,” ujar Soffia.

Kini sudah ada sekitar 30 KK yang menjadi binaan dalam usaha daur ulang

By Theo Rizky
By Theo Rizky

sampah plastik di Pekanbaru. Mereka terdiri dari tenaga pemulung, yang mengumpulkan sampah plastik dari TPA atau sampah-sampah perumahan. Sampah plastik kotor tersebut dibeli seharga Rp 2.000 per kilogramnya. Dan juga membina keluarga untuk mencuci dan memotong sampah-sampah plastik. Untuk tenaga pemotong dan pencuci, dihargai Rp 4.000 per kg.

Barulah setelah sampah plastik dibersihkan, Soffia menyerahkannya untuk dikerjakan penjahit binaannya. Di tangan pengrajin-pengrajin itulah, sampah plastik bisa berubah bentuk baru. Seperti tas punggung anak-anak, dompet, map, gantungan kunci, payung, dan masih banyak produk lain. Untuk tenaga tukang jahit ini, ongkosnya bermacam-macam tergantung tingkat kesulitannya. Ada yang dihargai Rp 3.000 hingga Rp 8.000 per item.

Bahkan jika tingkat kesulitannya semakin rumit maka ongkosnya bisa lebih tinggi lagi. Itulah sebabnya harga produk daur ulang sampah plastik ini cukup tinggi. “Sering kali itulah yang kurang dipahami pembeli. Padahal mengolah sampah itu jelas lebih sulit dari pada mengolah bahan yang utuh. Kalau sampah, biaya produksinya memang tinggi,” kata Soffia.

Dan setelah produk jadi pun, masalah tidak langsung berhenti. Diperlukan sistem pemasaran yang lihai untuk melakukan promosi serta penjualan. “Saya sadar yang dikerjakan adalah sampah, jadi belum semua masyarkat menerimanya. Bahkan butuh waktu yang lama untuk mensosialisasikannya,” kata Soffia.

By Theo Rizky
By Theo Rizky

Tak hanya mayarakat sebagai sasaran pengguna produknya, Dalang Production juga belum mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat, meskipun ia merasa cukup beruntung dengan dukungan atasannya di kantor untuk terus mengembangkan usaha ini. Atasannya juga yang telah membantunya untuk memasarkan produknya, seperti menggunakan map buatan Dalang Production dalam acara seminar-seminar.

Dukungan dari pemerintah kota Pekanbaru belum ada, padahal usaha ini turut ambil bagian dalam mengatasi sampah di Pekanbaru. Usaha daur ulang sampah plastik ini bekerja sama dengan TPA Muara fajar dan memiliki beberapa keluarga pemulung binaan untuk mencari sampah plastik seperti bungkus minyak goreng. Sedangkan untuk plastik mie instan atau deterjen, ia membina keluarga di wilayah Panam untuk mengambil sampah dari perumahan. “Setidaknya setiap bulan, saya menggunakan 500 kg sampah plastik yang ada,” tambahnya Soffia.

Namun sayangnya, ia belum merasakan dukunga dari pemerintah setempat. Justru dukungan itu datang dari kabupaten tetangga, Pelelawan. Produk olahan Soffi telah dipajang di Warung Bersih milih dinas kebersihan Pelelawan. Dan saat ini Soffi juga mendapatkan pesanan untuk mengerjakan rompi bagi pasukan kuning Pelalawan. (ans)

6 thoughts on “Sampah, Warisan yang tak ada habisnya (1)

  1. saya arif mau belajar atau mengikuti pelatihan pengolahan sampah plastik. Apakah tempatnya ada di kota malang.

    terima kasih

    Arif

  2. saya senang membuat sesuatu yang menghasilkan produk, untuk bahan dari daur ulang plastik saya dulu sudah pernah mencobanya sebelum rame seperti sekarang. hasil yang saya buat kurang fariatif /sangat sederhana ,membuat bunga ,tas itu saja,saya ingin membuat lainnya, bagaimana prosesnya supaya lebih cepat dan hasilnya bagus. karena saya membuatnya tidak memakai tehnik yang benar atau hanya karena saya hobi saja.
    saya minta panduannya atau bagaimana cara memprosesnya dari awal hingga menjadi sesuatu yang berguna dan cantik

  3. Ass.saya banyak kumpulin plastik bekas pakai (seperti Bekas pewangi,detergen dll)..saya bingung mau ke manain,krn mubazir dan saya g di manfaatin..kira2 bisa kasih informasi tempat pembuatan pengrajin tsb. terimaksih

  4. saya mau belajar buat manfaatin sampah, tp gk tau cara pola nya , saya kalau boleh minta cara pola sampah plastik untuk dijadidn tas?
    terimakasih

  5. @Arif & Agung: kalo di malang, aku kurang ngerti, krn skg aku di Pekanbaru. Di pekanbaru ada namanya Dalang Production, usaha itu di bawah panduan Kementrian Lingkungan Hidup (KLH).
    Coba aja kontak KLH setempat, kemungkinan besar mereka bisa membantu
    @Asri & Zhesa: kalau di Pekanbaru, datang aja di Dalang Production, Kulim. Usaha itu punyanya ibu Sofia. Tapi kalo di kota lain, cari infonya di KLH setempat aja…mudah2an mereka bisa bantuin. Kan tujuannya baik, untuk mengurangi sampah di alam🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s