My Feature

Kisah Imigran Ilegal Asal Afganistan di Pekanbaru

Hari ini, Rabu (6/5), saya mendapat kesempatan untuk berjumpa dengan beberapa imigran illegal asal Afganistan. Saya melihat lima orang dengan perawakan menarik, kulit putih-hidung mancung, di dalam sebuah ruangan yang sempit, di Rudenim Kota Pekanbaru.
Rian-Antara
Rian-Antara

Seorang bocah kecil, dengan rambut ikal dan kulit putihnya menarik perhatian saya. Huria, namanya. Dan bisa dipastikan, bocah itu tak tahu apa yang sedang menimpanya. Yakni sedang berada jauh dari kampung halamannya –Peshawar, Afganistan- dan menjadi warga yang tak diakui…di Indonesia.

Wajah Huria ceria. Bisa terlihat, sepertinya dia menjadi obat pelipur lara bagi kedua orang tuanya. Yah, lara hati….dari orang-orang yang terkena dampak perang tanpa akhir di Afganistan.

Jalur kehidupan yang dijalani Lactifa Adeel (29), ibu Huria saat ini, tentu saja tak pernah diinginkannya. Bagaimana tidak, dalam kondisi hamil, ia harus menghabiskan hari-hari berada dalam ruangan sempit rumah detensi imigrasi (Rudenim) Pekanbaru. Menghabiskan waktu seharian dengan aktivitas yang tidak menyenangkan.

Wanita itu sebenarnya adalah seorang dokter di Afganistan. Ia bekerja di sebuah klinik medis. Karena perang melanda negaranya, Lactifa dan anggota keluarga lainnya pun memberanikan diri untuk pergi ke luar dengan melalui perjalanan yang panjang. Padahal ia sedang hamil anak kedua.

Ia berangkat bersama suami dan anak perempuannya, Huria Adeel (1,8). Selain itu juga ia mengajak adik perempuan, Paween Usofi (21) dan suaminya, M Daud Usofi (28). Paween Usofi kini juga sedang hamil 22 minggu, sedangkan Lactifa hamil 25 minggu.

Berdasarkan pemeriksaan kesehatan terakhir, kondisi kehamilan mereka dinyatakan sehat-sehat saja. Namun karena kondisinya sedang hamil, Lactifa dan Paween dipisahkan dari imigran lainnya, yang sebagian besar laki-laki. Jadi berlima kini mereka tinggal di ruang kecil, berukuran sekitar 2,5×3,5 meter di lantai dua Rudenim, Pekanbaru.

Meskipun sudah dipisahkan dari rekan-rekannya yang lain, tetap saja Lactifa tak merasa nyaman. Jelas saja, mereka berada di tempat penampungan. “Saya lihat orang-orang di sini ramah, mereka mau bermain dengan anak saya. Tapi kami tidak nyaman berada di sini, ruangannya terlalu sempit,” keluh wanita berkerudung itu.

Apalagi baginya dan adik perempuannya yang sama-sama sedang hamil. Mereka mengaku butuh ruangan yang lebih luas untuk bisa bergerak bebas karena hamil. Tapi di ruang yang kecil itu, hanya ada kasur tipis di lantai, tempat mereka tidur berjajar. Selain itu hujan deras yang mengguyur Pekanbaru hampir setiap malam juga menambah penderitaan mereka, karena terasa lebih dingin.

Lactifa lalu bercerita, sebenarnya ia memiliki dokumen yang lengkap, baik itu paspor maupun visa. Namun perang menyebabkan mereka memilih jalur ilegal hingga mengantarkannya ke Indonesia. Padahal tujuan akhirnya adalah ke Australia.

Dari daerah asalnya, Peshawar, mereka menggunakan jalur darat yakni bus kota menuju ke Pakistan (Lahoor). Dari Lahoor, mereka menggunakan jalur udara ke Singapur kemudian mencarter mobil menuju ke Malaysia. Di Malaysia, rombongan imigran itu naik kapal menuju Indonesia untuk kemudian bertolak ke Australia.

Namun nasib mereka tak beruntung karena tertangkap saat sampai di Tanjung Balai Asahan. Dari sana, mereka masuk melalui Jambi dan dikirim ke Rudenim, Pekanbaru. Saat ini, sudah 11 hari para imigran ilegal asal Afganistan itu tinggal di Rudenim.

Lactifa dan suaminya, Haji Muhamad Adeel mungkin merasa terhibur dengan keberadaan buah hati mereka. Bocah kecil berambut ikal itu ceria, berlarian di antara mereka. Namun justru masa depan Huria jua lah yang memantapkan niat mereka untuk hijrah meninggalkan kampung halaman di Kabul, Afganistan.

“Saya ingin menjalani kehidupan yang lebih baik, untuk anak dan keluarga saya,” ujar Lactifa menggunakan Bahasa Inggris. Karena alasan itulah ia enggan untuk kembali ke negaranya. Padahal sehari sebelumnya sudah ada lima orang rekan sesama imigran Afganistas, minta pulang ke negaranya.

Menurut Kepala Rudenim Pekanbaru, Yanizur, lima orang yang minta pulang itu sudah diberangkatkan hari Selasa (5/4) kemarin. Mereka adalah Ismatullah Bin Charman Ali (28), Muhammad Zaki Bin Yazda Ali (22), Safwat Bin Ali Babakhan (33), dan Sajjad Bin Said Husin Syah (30).

Kepulangan mereka ke Kabul, Afganistan tersebut dengan kerjasama International Organization Migration (IOM) dan dengan melibatkan badan PBB untuk pengungsian, UNHCR. Dengan kepulangan lima orang imigran ilegal tersebut mengurangi jumlah imigran di Rudenim Pekanbaru menjadi 91 orang. Yanizur menambahkan, kondisi ini sebenarnya sudah overload untuk Rudenim. Kapasitas mereka hanya untuk 80 orang, namun saat ini jumlahnya lebih dari 90 orang.

Kasus penangkapan imigran ilegal dari Afganistan ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya juga sudah ada imigran yang tertangkap oleh pemerintah Indonesia. Dan ternyata…mereka bukan orang-orang biasa. Para imigran itu berasal dari masyarakat berada di sana. Tengok saja pengeluaran yang harus mereka keluarkan…$2.000 sampai $6.000 USD. Angka yang tidak sedikit.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tak mampu?? Harus bertahan di Afganistan sana…mendengar dentuman martil dan muntahan peluru yang tak kunjung berakhir.

Jangan sampai terjadi di negeriku tercinta ini (ans)

2 thoughts on “Kisah Imigran Ilegal Asal Afganistan di Pekanbaru

  1. duh terenyuh nih baca beritanya..
    dampak perang emang dahsyat ya..
    hal ini juga membuktikan bahwa kedamaian adalah keinginan setiap manusia
    perang tidak membawa apa-apa
    yang ada hanya tangis dan air mata

    semoga negeri kita tidak mengalami kejadian seberat afganistan.(mohon di jauhkan ya Alloh)

    nice post, terima kasih sudah mampir
    salam kenal dari saya..

    Iya Mbak Dwina, semoga cepet terapai kedamaian di sana. Dan jangan pernah menimpa negara kita ya…Memang kedamaian adalah impian setiap orang, termasuk kita yang hanya mendengar kisah itu pun, pasti ingin rasa damai itu datang

    Salam kenal kembali dari saya

    Wiek

  2. hebat oy, jadi wartawan. eh, mbak, kepada orang-orang Afghanistan itu apa mbak pernah tanya, sebenarnya mereka lebih suka di bawah pemerintahan Taliban atau suka dengan pemerintah resmi Afghanistan bonekanya Amerika?

    Nggak hebat kok Mas, cuman beruntung saja bisa mendapat pelajaran berharga dari setiap tugas peliputan. Tapi jujur aja, saya ndak nanya tuh mereka suka yg mana. Yang pasti, mereka cuma ingin pemerintahan yang bisa memberikan kedamaian bagi warganya.
    Liat aja tujuan akhirnya….Australia. Jadi dalam bayangan mereka, Australia lebih damai dan bisa memberikan masa depan cerah. Padalah Australia dan Amerika????

    ^_~
    Wiek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s