Wisata

Wedang Uwuh dan Makam Raja Mataram (2)

Siap-siap…..mengulang pelajaran sejarah hehehe… Ibu Guru akan mulai bercerita. Simak baik-baik yašŸ˜‰

Wiek's Picture
Wiek's Picture

Dipilihnya bukit yang juga dinamai Pajimatan Girirejo ini memiliki cerita tersendiri. Menurut cerita masyarakat setempat, ketika Sultan Agung Hanyakrakusuma sedang mencari tanah sebagai pemakaman khusus sultan dan keluarga sultan, beliau melemparkan segenggam pasir dari tanah Arab.

Pasir tersebut mendarat di perbukitan Imogiri, sehingga tempat itulah yang dipilih oleh Sultan Agung.

Pada tahun 1632 M, kompleks Makam Imogiri itu mulai dibangun oleh Sultan Agung dengan menunjuk seorang arsitek bernama Kyai Tumenggung Tjitrokoesoemo. Tigabelas tahun kemudian, di makam ini pulalah Sultan Agung dimakamkan setelah wafat pada tahun 1645 M.

Sultan Agung sendiri dikenal sebagai penguasa terbesar pada masa Kerajaan Mataram Islam. Ia adalah raja ketiga setelah Penembahan Senopati dan Penembahan Seda Krapyak. Sultan Agung memiliki nama besar karena mampu menguasai hampir seluruh tanah Jawa dan juga berani menyerang markas VOC di Batavia pada tahun 1628 dan 1629 M, meskipun selalu gagal.

Kegagalan penyerbuan ini juga menyimpan cerita misterius tentang seorang pengkhianat yang juga dikuburkan di Makam Imogiri. Dia adalah Tumenggung Endranata, salah seorang punggawa Mataram yang telah membocorkan rencana serangan Sultan Agung kepada pihak Belanda.

Akibat ulah pengkhianat itu, lumbung-lumbung padi sebagai persiapan logistik dalam perjalanan menuju Batavia dibakar oleh pasukan Belanda, sehingga pasukan Sultan Agung dapat dengan mudah dipukul mundur. Mengetahui salah satu pengikutnya berkhianat, Sultan Agung kemudian mengambil tindakan tegas dengan menghukum mati Tumenggung Endranata.

Kepala sang Tumenggung lalu dipenggal, dan tubuh tanpa kepala itu

Wiek's Picture
Wiek's Picture

kemudian ditanam di salah satu tangga di bawah pintu gerbang makam. Para peziarah akan menemukan sebuah anak tangga yang terbuat dari batu memanjang yang merupakan makam pengkhianat tersebut. Anak tangga dari batu itu berlekuk lantaran banyak orang yang telah menginjaknya. Monumen ini tentu sebuah peringatan bagi pengikut Sultan Agung supaya pengkhianatan tidak terulang lagi.

So…apa sih keistimewaan situs ini???

Saat mengunjungi Makam Imogiri, wisatawan dapat merasakan langsung atmosfir magis dari tempat yang dikeramatkan oleh sebagian besar masyarakat Jawa ini.

Aroma kembang dan dupa menyeruak di sekitar makam, karena hampir setiap hari para abdi dalem keraton meletakkan sesajen khusus di makam raja-raja. Bahkan, menurut keterangan salah seorang juru kunci, makam Sultan Agung hingga kini selalu harum semerbak karena beliau dianggap telah mencapai tingkatan waliyullah (kekasih Allah).

Selain makam Sultan Agung, di tempat ini juga dimakamkan 23 raja keturunan Sultan Agung, termasuk dari dinasti Kasunanan Surakarta maupun Kesultanan Yogyakarta. Makam raja-raja ini terbagi ke dalam delapan kelompok, yaitu: Kasultanan Agungan (makam Sultan Agung, permaisuri, Hamangkurat Amral, dan Hamangkurat Mas); Paku Buwanan (makam PB I, Hamangkurat Jawi, dan PB II); Kasuwargan Yogyakarta (makam HB I dan HB III); Besiyaran Yogyakarta (makam HB IV, HB V, dan HB VI); Saptorenggo Yogyakarta (HB VII, HB VIII, dan HB IX); Kasuwargan Surakarta (makam PB III, PB IV, dan PB V); Kapingsangan Surakarta (makam PB VI, PB VII, PB VIII, dan PB IX); Girimulya Surakarta (makam PB X, PB XI, dan PB XII).

Secara umum denah atau susunan makam raja-raja ini menyerupai segitiga. Pada bagian atas terdapat makam Sultan Agung, di sisi timur terdapat makam Raja-raja Kesultanan Yogyakarta, dan di sisi barat terdapat makam Raja-Raja Kasunanan Yogyakarta. Pemisahan makam raja-raja keturunan Sultan Agung merupakan imbas dari perlawanan yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I) terhadap kakaknya, Paku Buwono II. Akibat perang tersebut, muncul Perjanjian Giyanti (tahun 1755 M) yang memisahkan Kerajaan Mataram Islam menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Karena makam ini dikeramatkan, maka tidak sembarang orang boleh memasuki kompleks makam.

Wiek's Picture
Wiek's Picture

Bahkan ada larangan-larangan saat memasuki komplek makam seperti dilarang menebang pohon dan lain sebaginya.

Jika ingin masuk ke makamnya, Ā ada beberapa persyaratan khusus yang harus dipenuhi peziarah, antara lain dilarang mengenakan alas kaki, mengenakan perhiasan (terutama emas), membawa kamera, serta harus berpakaian khas Jawa (peranakan). Untuk peziarah laki-laki mengenakan blankon, beskap, kain, sabuk, timang, dan samir, sementara untuk perempuan memakai kemben dan kain panjang. Selain itu, secara umum di area makam dan hutan di sekitar makam, para pengunjung dilarang berbuat tidak sopan, berburu, memotong pohon, mengambil kayu, serta mencabut atau merusak tanaman yang ada.

Selain berziarah, para pelancong juga dapat menyaksikan empat gentong (padhasan) yang merupakan persembahan kerajaan-kerajaan sahabat kepada Sultan Agung. Gentong-gentong itu diberi nama Nyai Siyem (dari Siam), Kyai Mendung (dari Rum/Turki), Kyai Danumaya (dari Aceh), serta Nyai Danumurti (dari Palembang). Air di dalam gentong tersebut konon memiliki khasiat tertentu, baik untuk kesehatan, penyembuhan, ataupun kesuksesan. Oleh sebab itu, banyak peziarah yang meminum air tersebut atau membawanya pulang.

Apabila berminat mengunjungi makam ini pada malam hari, maka datanglah pada malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Pada malam-malam tersebut, banyak peziarah yang melakukan ritual doa di sekitar makam, terutama pada saat tengah malam. Para peziarah ini datang dengan berbagai macam tujuan, seperti berdoa untuk kelancaran rezeki, kesuksesan karir, atau menambah ilmu kanuragan.

Sumber: Malaytourism

3 thoughts on “Wedang Uwuh dan Makam Raja Mataram (2)

  1. aku masih di tempat lama kk..

    datang lah sini.. hihi

    jangan cuman sama si abang aja kk..:P:P

    hiahiahaa

    apa kabar kk

    Hihi…pa kabar Non?
    Baik kan…besok deh kuusahai mainĀ² lagi. Maklum, orang sibuk ne jadi susah buat main (halah)

    Wiek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s