My Feature

Menghidupkan Oglek di Jaman Moderen

Mereka Hidup Bersama Seni

Dua tahun sudah saya meninggalkan kota tercinta…Jogja (beberapa kali pulang kampung sih). Dan sejak saat itu, hampir tidak pernah saya melihat pertunjukan kesenian a live seperti yang satu ini. Uniknya lagi, saya melihatnya di tanah Sumatera. Seni Oglek …alias Jathilan…yang dulu sering kami (saya sekeluarga) lihat di alun-alun Kraton Jogjakarta.

SEHARI-HARI mereka adalah warga biasa yang bergelut dengan aktifitas masing-masing. Ada yang menjadi petani penggarap, pekerja sawit, tukang kayu, ibu rumah tangga, dan beragam aktifitas harian lainnya. Namun dalam satu waktu mereka bisa berubah menjadi sekelompok seniman. Mereka adalah seniman Oglek Turonggo Mudo asal Kampar.

Lantunan gending Jawa berjudul Jenang Gulo dari sinden berkebaya warna biru mengawali penampilan Oglek dari Turonggo Mudo dalam Pasera Akhir Tahun di halaman Taman Budaya, Pekanbaru di Rabu sore. Lima orang penari pria lengkap dengan kuda lumpingnya ditemani tiga penari wanita pun berlenggak-lenggok mengikuti suara sinden dan irama gamelan.

Kedelapan penari muda itu bergerak perlahan-lahan karena irama gamelannya pun ritmenya pelan. Namun sesekali beritme kencang dan dua orang berpakaian serba hitam dengan memegang cambuk melepaskan cambukan ke tanah. Suara cambuk melesat dengan kencang seiring dengan gerakan penari pria dengan kuda lumpingnya sambil beratraksi bagaikan orang yang sedang berperang.

Penonton yang tadinya duduk agak jauh dari arena pun sedikit demi sedikit mulai beranjak mendekat. Menyaksikan “pasukan kuda lumping” dari Oglek ini beratraksi dengan iringan gending dan gamelan.

Namun bukan perlengkapan gamelan yang komplit seperti yang biasa digunakan dalam tarian Jawa para umumnya. Mereka hanya menggunakan gamelan seadanya seperti Kenong, Kendang, Gong, dan Saron. Begitu juga dengan kostum mereka, menampilkan kesederhanaan karena tak banyak yang digunakan. “Kalau di kesenian Jawa, ada dua kategori yaitu kesenian Adiluhung dan kesenian Rakyat. Oglek ini termasuk kesenian rakyat,” ujar Aryo, sang pembina sanggar.

Dan seperti juga golongannya yang termasuk kesenian rakyat, Oglek ini pun dilakukan oleh masyarakat biasa. Tidak perlu belajar di sanggar seperti sanggar pada umumnya saat ini. Seni itu justru hidup dalam keseharian mereka dan sanggar hanyalah sebuah sarana untuk berkumpul bersama, terang Aryo.

Itulah seni dalam pandangan para seniman di Turonggo Mudo yang juga memiliki arti Kuda Muda. Mereka menjadikan kesenian sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengan begitu seni tidak tergantung dengan panggung maupun jadwal pementasan karena bisa dilakukan kapan pun dan dimanapun juga.

“Biasanya Oglek ini ditampilkan saat ada acara di sekitar kampung. Misalnya ada yang menikah, melahirkan anak, atau punya hajatan lainnya. Mereka akan tampil untuk memeriahkan acara. Dan yang lebih penting lagi, penampilan mereka ini sangat mengunggulkan rasa kekeluargaan dan bukan materi,” jelas Aryo. Bahkan sering kali mereka tampil hanya dan dibayar dengan makan untuk mereka saja.

Lalu bagaimana mereka eksis di tengah kemajuan jaman yang serba moderen? Aryo menambahkan bahwa para seniman Oglek asal Kampar ini sebenarnya terus menerus melakukan regenerasi.

Di setiap penampilan Oglek Turonggo Mudo, selalu terlihat bocah-bocah bersama ibunya di sekeliling penabuh gamelan. Itu merupakan satu diantara bentu mereka mengenalkan dan menghidupkan seni sejak dini bagi anak-anaknya. Dengan mengajak anak-anak, mereka akan melihat dan bahkan ikut bergoyang mengikuti suara gamelan. Lama-kelamaan mereka akan menjadikan seni ini bagian dari kehidupan mereka dan akan terus dibawa sampai mereka dewasa. (ans)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s