My Feature

Kasih Ibu Sepanjang Masa

Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia

Picture by Melvinas
Picture by Melvinas

Agaknya penggalan syair lagu tersebut tepat menggambarkan kasih sayang yang dimiliki Painem (70), satu diantara wanita penghuni Panti Sosial Tresna Werdha Khusnul Khotimah, Pekanbaru. Meskipun tinggal di dalam panti jompo yang justru seharusnya mendapatkan bantuan dari pihak luar, Painem justru selalu menyimpan barang pemberian orang untuk diberikan pada anak dan cucunya.

Setiap hari raya (lebaran), Painem dan penghuni panti jompo yang terletak di Jalan Khaharuddin Nasution itu diberikan kesempatan untuk pulang ke rumah keluarganya. Dalam kesempatan itulah para lansia ini juga membawa barang-barang pemberian orang ke mereka. “Saya simpan sarung-sarung yang dikasih orang. Kalau hari raya saya berkunjung ke rumah anak-anak, sarungnya bisa saya kasih ke mereka,” ujarnya.

Seperti saat Hari Raya Idul Fitri yang lalu, Painem mendapat kesempatan untuk pulang ke rumah anak-anaknya di Dumai. Dalam kesempatan itulah Painem selalu menenteng barang yang berhasil dikumpulkannya selama satu tahun di panti jompo. “Tidak tentu jumlahnya berapa. Kalau ada banyak ya bawa banyak. Kemarin saya bawa dua, satu dikasih ke anak satu lagi buat cucu,” ujar Painem bahagia.

Memang sebuah kebahagiaan tak terkira bagi orang tua, khususnya ibu jika bisa memberikan sesuatu untuk buah hatinya. Padahal anak dan cucu Painem sebenarnya bukanlah darah dagingnya sendiri. Painem dan almarhum suaminya tidak dikaruniai anak kandung. Mereka tinggal bersama sebuah keluarga yang memiliki 10 anak waktu masih bekerja di kebun sawit di Medan. Tapi setelah berhenti kerja, ia dan suaminya pindah ke Pekanbaru untuk bekerja dan tinggal dengan bersama delapan anak angkatnya. Dua orang anak angkatnya telah meninggal dunia.

Karena himpitan ekonomilah yang akhirnya mengantarkan Painem ke panti jompo. “Anak angkat saya juga yang menguruskan semuanya dan mengantar saya ke sini. Kadang mereka datang menjenguk. Kalau hari raya, saya yang datang ke sana berkumpul dengan cucu,” kenang wanita berjilbab warna kuning itu.

Tak semua penghuni panti jompo memiliki keberuntungan seperti Painem. Menurut Susilo, Staf Seksi Pelayanan Panti Sosial Tresna Werdha Khusnul Khotimah menyebutkan sebagian besar penghuni panti jompo ini tinggal sebatang kara. Mereka adalah para janda yang ditinggal mati suaminya masing-masing.

Seperti Sito (74) yang telah tinggal selama empat tahun di panti jompo. Ia masuk ke panti jompo setelah suaminya meninggal dunia. “Dulu suami yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan bayar kontrakan rumah. Tapi setelah suami meninggal, saya tidak bisa mencari uang sendiri, makanya ke sini,” kata Sito.
Ia juga tidak memiliki anak kandung. Sama seperti Painem, ia pun hanya memiliki anak angkat yang membantu mengurus keperluannya sebelum masuk panti. Tapi mereka sudah jarang mengunjunginya. “Mau gimana lagi. Saya tinggal sendirian. Sepi dan jauh dari keluarga. Jadi dinikmati saja tinggal di sini,” ujar Sito.

Tinggal bersama rekan-rekan sesama lansia justru bisa mengembalikan semangat mereka. Seperti diakui Sito dan Painem, di panti jompo itu mereka dihargai dan dibina untuk memiliki rasa percaya diri yang pernah hilang karena bertambahnya usia.

Panti Sosial Tresna Werdha Khusnul Khotimah, memiliki 70 orang penghuni yang terbagi dalam 13 wisma. Sebanyak 36 adalah penghuni pria dan 34 lagi merupakan penghuni wanita. Para lansia yang tinggal, berusia minimal 60 tahun.

Namun tidak mudah untuk bisa mengirimkan orang ke panti jompo ini. “Ini adalah panti sosial binaan pemerintah jadi ada persyaratan untuk masuk ke sini. Diantaranya adalah umur minimal 60 tahun dan berasal dari keluarga yang kekurangan. Baik itu kekurangan secara ekonomi atau kekurangan kasih sayang atau perhatian dari keluarganya,” kata Susilo. Selain itu, penghuni panti yang masuk harus dalam keadaan sehat jasmani dan rohani.

Pertimbangannya, para lansia ini harus bisa mengurus dirinya sendiri. Terlebih karena program panti adalah untuk mengembalikan kepercayaan diri mereka yang hilang. “Orang yang semakin tua sering kali muncul pemikiran tidak percaya diri karena akan merepotkan orang lain,” kata Susilo. Tapi di panti, mereka justru dimunculkan kepercayaannya dengan berbagai kegiatan. Misalnya dengan doa bersama, ketrampilan, olah raga lansia, dan pemberian materi pendidikan merawat diri. (ans)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s