Kesehatan

Bukan Mereka yang Harus Dijauhi

SELAMA ini stigma yang muncul di masyarakat tentang HIV/AIDS semakin mendiskriditkan mereka yang positif terinfeksi. Bukan hanya merasa “divonis” oleh virus mematikan itu saja melainkan juga vonis dari masyarakat yang terus menghujani mereka dengan pemikiran bahwa selama ini mereka menjalani perilaku yang menyimpang dan harus disingkirkan. aids_logo_397733a1

Padahal bukan “mereka” itu yang harus dijauhi. Kita hanya harus menjauhi perilaku negatif yang bisa beresiko menyebarkan HIV

Berlatar belakang dari itulah, muncul sebuah kelompok dukungan sebaya di Pekanbaru. Sebuah kelompok yang menamakan diri Lancang Kuning Support Group (LKSG) yang terdiri dari ODHA, Ohida, dan orang-orang yang peduli HIV AIDS.

Saat peringatan hari AIDS se-Dunia yang jatuh Senin (1/12) yang lalu, sebagian dari mereka berbaur dengan ratusan orang yang menggelar aksi di berbagai sudut Kota Pekanbaru. Ikut bergabung dengan berbagai elemen masyarakat di jalanan.

Ini adalah satu diantara bukti bahwa meskipun mereka ODHA dan Ohida, mereka pun masih bisa menjalankan aktivitas seperti orang-orang pada umumnya. Berkumpul, bercanda, ngobrol, bahkan berjalan-jalan seperti yang lain-lain.

Sangat bertolak belakang dengan yang selama ini beredar di masyarakat. Bahwa orang yang terkena HIV/AIDS ini tubuhnya kurus, lemah, dan tak berdaya. “Orang yang terinfeksi HIV itu tidak kelihatan secara fisik, kami ini ya seperti orang-orang biasa lainnya. Kalian tidak bisa langsung memvonis yang kurus itu yang kena HIV,” ujar satu di antara mereka.

Dan hari itu juga, Tribun beserta rekan-rekan wartawan lainnya berkesempatan untuk mengenal kelompok ini lebih dalam dan berdiskusi serta berbagi cerita bersama. Pertemuan dilaksanakan di sebuah rumah yang menjadi sekretariat LKSG, di tengah kota Pekanbaru.

Di situlah mereka sering berkumpul dan berbagi informasi terbaru. Yudi, Koordinator LKSG mewakili teman-temannya untuk mewakili perkenalan. Kelompok dukungan sebaya yang satu ini telah berdiri di Pekanbaru pada 12 Februari 2006.

Berawal dari kepedulian orang yang terkena HIV positif di Pekanbaru. Saat itu ia mengikuti sebuah seminar nasional di Jakarta dan terbuka pikirannya untuk membentuk sebuah kelompok. “Kelompok ini didirikan untuk menampung ODHA dan Ohida dan menjadi ajang diskusi secara kompleks. Kami mengadakan pertemuan rutin setiap bulan dengan mendatangkan nara sumber dari luar,” papar Yudi.

Saat ini, LKSG memiliki anggota sekitar 80-an orang. Dari jumlah itu, anggota aktifnya sebanyak 25 orang. Dari perkumpulan inilah mereka pun bisa saling menguatkan satu sama lain. “Bayangkan, saat kita diberitahu positif HIV, hidup ini rasanya hancur. Tak ada harapan karena siapa pun sudah tahu virus ini belum ada obatnya dan pasti akan berujung pada kematian. Tapi di sini, kami bisa saling berbagi cerita. Berbagi kisah tentang bertahan dengan HIV di tubuh, dari situlah bisa saling memberi kekuatan,” papar satu diantara mereka.

Bukan hanya berbagi kisah yang menguatkan, mereka pun bisa saling meminjam obat saat stok obat habis. Mereka yang HIV positif harus mengkonsumsi obat secara periodik dan tidak boleh terputus. Seandainya terputus, virus itu sifatnya bisa resistan atau menjadi semakin kuat. Jika virusnya semakin kuat maka harus mendapatkan obat yang dosisnya lebih tinggi yang tentu saja akan jauh lebih sulit lagi untuk diperoleh. Dan tentu saja jauh lebih mahal harganya.

Kondisi saat ini, keberadaan obat untuk pengidap HIV sering kali tidak lancar. Beberapa kali mereka kehabisan stok obat dan jika itu terjadi maka solusinya adalah saling meminjam obat antar seman sekelompok.

Lalu sebuah pertanyaan pun terlintas terkait eksistensi mereka, kenapa di sini orang yang terkena HIV susah ditemui? Sebuah pertanyaan yang terselip di tengah-tengah harapan mereka untuk diterima sebagai bagian dari masyarakat.

Dan satu jawaban yang muncul. “Tidak ada jaminan keselamatan bagi kami,” ujarnya. Selama ini HIV AIDS masih dianggap momok yang harus dijauhi. Bahkan ada yang terasing dari keluarganya karena mengidap penyakit ini.

Penilaian masyarakat terhadap mereka lebih menakutkan dari penyakit itu. Ketakutan inilah yang mambuat mereka tetap menutup diri. Padahal tidak semua penderita AIDS terjangkit karena prilaku menyimpang.

Banyak mitos yang tidak benar telah berkembang. AIDS tidak menular dengan cara berjabat tangan, makan dan minum bersama. “Seharusnya yang dijauhi itu virusnya bukan orangnya, karena kami juga butuh perhatian dan lindungan. Bukan malah dihukum dijauhi dan dikucilkan, Hingga harus menemui ajanya sendirian” ungkap satu diantara mereka. (ans)

2 thoughts on “Bukan Mereka yang Harus Dijauhi

  1. misi mbak..
    maaf klo saya ganggu
    saya memang bkan odha tapi entah kenapa hati saya tergerak untuk mengenal mereka..
    apa mbak bisa memberithu saya bagaimana cara memasuki dunia mereka dan menjadi bagian dari mereka

    1. Alo juga Ayu, wah niatmu baik banget.
      Memang sih kalo orang awam tidak begitu saja bisa masuk dengan mereka. Tapi kalau Ayu emang pengen kenal lebih jauh, gabung aja di LSM yang bergerak di bidang pendampingan AIDS ato datang aja ke KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) di kota Ayu berada. Biasanya KPA ne ndak jauh-jauh ma Dinas Kesehatan, jadi cari aja pasti ketemu kok😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s