Star Profil

Mendapat Dunia tapi Kehilangan Kehidupan

Hari Sabtu, 15 November 2008
Malam itu saya duduk di deretan kursi paling belakang. Sejajar dengan tiga orang pria di sebelah kiriku. Dan mengingat ada sms yg masuk sebelumnya dari rekan di Tribun Pekanbaru juga, Mega, saya pun menyadari bahwa satu diantara pria-pria itu adalah Agustinus Gusti Nugroho.
Atau mungkin lebih dikenal dengan nama bekennya Nugie.

nugie_wiek Ia mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna dasar oranye dilengkapi dengan kaca mata berukuran besar. Casual dan rapi. Yang semakin membuatnya menarik lagi adanya senyum di bibirnya. Tak jemu-jemu ujung bibirnya terangkat beberapa milimeter. Bahkan sesekali tawanya pun meledak kala Kris Biantoro melontarkan kalimat-kalimat lucu.

Om Kris nih banyak kasih guyonan dalam bahasa Jepang atau Belanda yang diplesetkan dalam bahasa Jawa. Saya pun ikut tertawa, begitu juga 700an peserta seminar kebangsaan malam itu. Meskipun muncul keraguan, apakah mereka itu sungguh-sungguh paham, mengingat lokasinya tidak di Jawa dan isinya pun mayoritas bukan orang Jawa.

Tapi lepas dari itu semua, ada yang sebenarnya menarik yang ingin saya ceritakan. Yaitu dorongan untuk ngobrol lebih banyak dengan Nugie. Dan kesempatan itu pun akhirnya tiba juga, usai ia membawakan dua lagu. Burung Gereja dan Lentera Jiwaku.

Sekitar 15 menit saya mendapat kesempatan ngobrol dengannya. Panjang lebar kami bicara, mulai dari dunia selebritis yang digelutinya hingga keikutsertaannya sebagai duta WWF dan kegiatan lingkungan hidup lainnya.

Namun satu yang menggelitik adalah keputusannya untuk tidak membuat album lagi. Nugie tetap bermusik namun menyasar hit tunggal yang disebarkan melalui ring back tone dan hasilnya disumbangkan untuk konservasi hutan (lingkungan yang rusak).
Ia beralasan, pasar atau industri musik yang berkembang saat ini dirasa “mencekal” musiknya. Nugie sadar lagunya tidak akan laris di pasaran namun ia pun tak ingin merubah gaya bermusiknya. Tetap menyuarakan kondisi di sekitar kita.

Sebuah prinsip yang membuat saya salut. Apalagi di tengah isu Star Sindrom yang menyerang beberapa selebritis kita. Tapi Nugie yang notabene masih muda (35 th-an umurnya) justru rela menanggalkan popularitas demi menikmati kehidupannya. Kehidupan yang sungguh-sungguh dinikmatinya.

Saya jadi ingat sebuah buku yang pernah saya baca beberapa waktu yang lalu. Tulisan A de Mello berjudul “Dipanggil untuk Mencinta.” Di salah satu bab-nya ada yang membahas tentang kehilangan kehidupan.

“Untuk apa kita mendapatkan seluruh dunia, tapi kehilangan kehidupan”

Sebaris kalimat yang sangat dalam, menurut saya. Kekayaan, popularitas, ketenaran, materi, dan berbagai keleka. tan adalah DUNIA. Mendapatkan itu semua berarti mendapatkan dunia.
Tapi sering kali membuat orang lupa, kalau ia justru kehilangan KEHIDUPAN. Kehilangan rasa untuk menikmati hakekat kehidupan yang sesungguhnya, karena mereka justru dikeliliki kekhawatiran dan ketakutan.

Takut kehilangan pekerjaan, khawatir ditinggalkan pengagumnya, takut ditinggal kekasihnya, dan beraneka takut dan khawatir lainnya.

Seseorang tidak bisa menjadi BEBAS dan LEPAS dalam menjalani kehidupan. Dan akhirnya, mereka bagaikan robot hidup. Menjalani proses biologis seperti layaknya makhluk hidup yang masih hidup, tanpa bisa menikmati KEHIDUPAN yang sesungguhnya. Yang penuh gejolak dan tidak bisa diprediksi dengan tepat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s