Serba-serbi

Berburu Keberuntungan

Orang bodoh akan kalah oleh orang pintar. Tapi orang pintar masih bisa dikalahkan..yaitu oleh orang yang beruntung. Mungkin ini yang menjadi alasan sebagian orang yang berusaha “berburu keberuntungan.”

Baik keberuntungan secara finansial (dagang atau usaha) ataupun keberuntungan lainnya seperti perjodohan, lulus ujian, dan lain sebagainya, dan lain-lain…

Siang ini, Rabu (28/8), karena sedang ada di kantor…saya harus menemui seorang tamu yang ingin bertemu dengan bagian redaksi. Yah, meskipun dalam job description, ada posisi lain yang bertugas menemui tamu.

Tapi untuk kesekian kalinya saya harus berada di garis depan

(woloh..kayak mo perang ajah hehe..)

Tamunya adalah seorang wanita paruh baya. Saya taksir usianya menginjak kepala empat. Sebut saja namanya Melani (bukan nama sebenarnya). Rambutnya panjang sepunggung dan diikat ke belakang. Ia mengenakan setelan kaos berkerah warna biru tua dengan celana panjang hitam. Penampilannya biasa² saja.
Namun ada satu yang menonjol darinya, yaitu adanya semacam bekas luka di kedua pipinya.
Bekas luka itulah yang akhirnya memunculkan keberanian si ibu ini untuk melapor ke kantorku (yah, meskipun sebenarnya lebih lebih cocok kalau dia lapor ke kantor polisi sih).
Tapi si ibu juga punya pertimbangan sendiri dengan membeberkan ke media dan bukannya ke pihak berwajib. Melani merasa keamanannya tidak terjamin jika lapor ke kantor polisi. Selain itu juga pertimbangan ekonomis…UUD alias Ujung-Ujungnya Duit (mengingat dia ini dari etnis yang diidentikkan dengan etnisnya orang² kaya)
Melani berani memaparkan kasusnya karena ia tidak didukung finansial yang memadai untuk lari ke luar negeri dan memoles lagi wajahnya supaya mulus. Selain itu, menurut pengakuannya, tindakan itu dipicu dari kesadaran dirinya akan nasib warga lain yang bisa saja menjadi korban penipuan atau “mal praktek” si dukun atau suhu sakti yang didatanginya itu.

Saya tidak ingin berbicara panjang lebar mengenai latar belakang niat Melani melaporkan peristiwa yang menimpanya itu. Namun pikiran saya tergelitik dengan niat awalnya mendatangi tempat praktek si dukun atau Suhu cabul itu.
Cabul???!!!
Oh iya, saya emang belum cerita kecabulannya sih. Ketika Melani mendatangi tempat praktek Suhu, ia sempat mendapat perlakuan tidak senonoh. Suhu itu membawanya masuk ke sebuah kamar dan menguncinya dari dalam. Dan di situlah awalnya, Melani diminta melucuti pakaian dan sang Suhu pun turut membuka celananya. Tidak perlu dikupas panjang lebar dengan peristiwa selanjutnya..

Tapi intinya, Melani yang saat itu datang dengan harapan bisa menghilangkan tahi lalat di

wajahnya, ternyata harus menelan harapan itu. Si Suhu benar-benar menghilangkan tahi lalat di wajahnya (yang letaknya di bawah mata) sekaligus menghilangkan kemulusan kedua pipinya.

Cairan (ramuan sakti)  yang dioleskan di pipinya ternyata bagaikan racun di wajahnya. Kulit mulus itu pun melepuh. Dan Melani…merasakan kegetiran karena setelah diperiksakan ke dokter kulit, dokter pun memvonis luka itu akan menjadi cacat seumur hidupnya. Tidak akan bisa hilang, kecuali dengan operasi plastik.

Hum…saya agak heran. Latar belakang kulit Melani sebenarnya putih dan mulus.

Dan tahi lalatnya sudah barang tentu tidak sebanyak milik saya.

Tapi kenapa dia ingin menghilangkannya??!! Jawabannya seperti yang saya perkirakan. Wanita itu mempertimbangkan faktor keberuntungannya. Tahi lalat di wajahnya itu tidak memberikan keberuntungan, dan itu juga yang menyebabkan usaha yang digelutinya selama 26 tahun tidak juga sesukses kolega-koleganya. Melani ingin menghilangkan Tahi Lalat yang Tidak Membuatnya Beruntung itu.

Dan menurut pengakuannya, Melani tidak sendiri. Masih banyak teman² yang melakukan

Perburuan Keberuntungan seperti yang dilakukannya. Bahkan teman-teman yang sebenarnya sudah sukses usahanya. Nah, kalau sudah begitu, siapa yang salah??!!

Suhu cabul itu memang salah. Udah cabul…bikin mal praktek segala.

Tapi pasiennya gimana??? Salah nggak tuh berburu keberuntungan dengan mendatangi tempat² semacam itu??? Tidak perlu saya jawab. Kita jadikan refleksi bagi diri kita sendiri saja

2 thoughts on “Berburu Keberuntungan

  1. Ya memang masyarakat kita masih seneng ke hal hal yang berbau klenik sehingga sangat mudah terkecoh, saya setuju hal tersebut sbg refleksi diri, Salam

    iyah Pak, makasih atas komentarnya🙂
    Salam kembali
    Wiek

  2. Ehalah, kok yo ana2 wae yo mbak….
    kasihan bener si ibu Melani (bukan nama sebenarnya) … lha sekarang sudah nda ada tailalatnya apa ya sudah beruntung?

    hihi…emang tuh Om Frater…masih ada juga yang kayak gitu
    Setelah tahi lalatnya ilang…kayaknya sih…..tetep gitu-gitu ajah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s