Serba-serbi

Merdeka…

Hari ini, Sang Saka Merah Putih berkibar di penjuru Nusantara…dari Sabang sampai Merauke. Karena hari ini tepat Bangsa Indonesia memperingati hari Kemerdekaan ke 63. Dengan penuh semangat…kita teriakkan Merdeka!!!

Semoga tidak hanya di bulan Agustus ini saja kita mengingat Kemerdekaan

Sebaris aksara Jawa menggelitik perhatian saya ketika sedang berada di ruang dokumentasi. *Ruangan itu semacam perpustakaan mini di kantor lah. Agak lama saya mencoba untuk membacanya, namun ternyata kemampuan membaca aksara Jawa Palawa saya sudah menurun drastis hihi… Cuman berhasil dapat satu kata saja.

Dan dengan bantuan tulisan di bawahnya, barulah saya bisa membaca aksara itu. Bunyinya Niti Sastra. Sebuah buku tulisan Anand Krishna mengenai Kebijaksanaan Klasik Bagi Manusia Indonesia Baru.

Buku itu menarik perhatian saya karena menyinggung Manusia Indonesia Baru.
Barunya tuh yang mana ya?
Apakah manusia Indonesia yang BARU merdeka dari penjajahan kah?

Nggak lah ya, penjajahannya dah lewat. Sukarno-Hatta pun dah berjuang bersama pendahulu yang lain untuk bisa berhasil mengumandangkan PROKLAMASI pada 17 Agustus 1945 yang lalu.
Atau mungkin manusia Indonesia yang BARU tadi pagi memperingati perayaan kemerdekaan RI ke 63 ya?
Ikut jawaban Ringgo…Mei. Meibi yes, meibi no hehe…
Selain menyingung tentang manusia Indonesia baru, yang menarik lagi adalah dasar pemikiran Oom Anand Krishna ini. Ia menelaah sebuah karya kesusasteraan Jawa yang dikenal dengan nama Niti Sastra.
Karya sastra ini ditulis pada zaman majapahit (yah, sekitar lima adab yang lalu deh). Yang menurut Sri Sultan Hamengku Buwono X, serat ini berisi ajaran tentang kesusliaan yang berlaku di jaman Majapahit. Sebuah karya sastra yang terbilang kuno.

Masihkah ampuh diterapkan di dunia modern dan menjadi pedoman perilaku manusia Indonesia Baru ini?

Mungkin saja pedoman “kuno” ini masih bisa jadi senjata ampuh bagi masyarakat moderen. Dengan catatan…kita tidak begitu saja meninggalkan sejarah. Tak hanya sejarah perang-perangan merebut nusantara tercinta ini. Namun juga sejarah budaya yang tidak bisa dipungkiri turut membentuk bangsa ini.
Saya sendiri secara pribadi tidak menyebut diri sebagai seseorang yang memiliki nasionalisme yang tinggi. Namun saya bisa miris mendengar “penolakan tidak langsung” terhadap peninggalan budaya di nusantara ini.

Saya kutip juga dari Oom Anand. Kita telah melupakan sejarah masa lalu. Seolah kita tidak mau berurusan dengan sejarah masa lalu itu.
Misalnya, coba dengar jawabam orang yang ditanya mengenai Candi Borobudur atau di Riau ada Candi Muara Takus. Atau juga ditanya mengenai Candi Prambanan.
Borobudur dan Muara Takus adalah peninggalan “jaman Budha” dan Prambanan adalah peninggalan “jaman Hindu”

Berbeda dengan di India, orang menyebut Taj Mahal sebagai peninggalan Dinasti Mogul. Mereka tidak peduli dinasti itu beragama Islam, Hindu, Kristen, atau Budha. Tapi mereka menilainya sebagai peninggalan sejarah bangsa.

Kenapa tidak disebut Borobudur ini warisan Dinasti Syailendra??!!
Yah, bisa jadi jawabannya adalah karena kita tidak tahu nama dinastinya kali yah.
Lepas dari masalah kita tahu atau tidak dinasti yang sedang berkuasa saat itu, tapi perlu kita sadari bahwa itu adalah peninggalan budaya yang membentuk bangsa kita. Seperti juga peninggalan sejarah dan budaya lain yang tersebar di wilayah di nusantara ini.

Dan supaya tidak berbuih-buih isi pidato ini (wuluuh…), saya cuman ingin mengingatkan bahwa kita tidak bisa memisahkan diri dari Sriwijaya, Majapahit, dan yang lainnya. Karena dengan menolaknya, berarti kita pun turut memberi kontribusi dari hilangnya akar budaya kita, yang berarti juga kehilangan jati diri bangsa yang besar.

One thought on “Merdeka…

  1. Kalau ngak salah ingat budaya itu cipta, rasa dan karsa manusia jadi selalu dinamis persolannya kita tidak menggali dan melestarikan budaya yang ada, tentunya ada beberapa kendala yang harus dicairkan terlebih dahulu, salam

    dan itu menjadi Pe eR (pekerjaan rumah) bagi kita semua, sebelum kita kehilangan jati diri bangsa karena kehilangan nilai historis dari budaya. Terima kasih Pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s