Serba-serbi

Cuti Patah Hati di Jepang

Pernahkah Anda patah hati?!

Fiuh, banyak orang bilang berjuta rasanya. Pait pun terasa manis. Biar malam, biar siang terbayang wajahnya….Ups..itu kan jatuh cinta yah.

Maaf…maaaaf….
Kalau patah hati, nih dia…. Jangankan konsentrasi kerja. Buat ngurus diri sendiri aja bisa terlewatkan.
Dunia isinya si *dia* ajah. Mikir dikit ajah, tau-tau bayanganya nongol. Bahkan ada makanan- makanan kegemaran kita tersaji, teteeeeep aja….dia….isinya.
Bukannya ngiler, tapi malah air mata berlinangan. Malah kata Om Maggy Z, mendingan sakit gigi dari pada sakit hati (aih….jadul yak)

Woloh-woloh…kayaknya aku ikutan berlebihan ne…


Memang sih, yang namanya patah hati tuh tidak bisa dianggap sepele. Dibutuhkan perhatian ekstra. Minimal perhatian dari diri sendiri. Menyempatkan waktu untuk merenung sejenak, kemudian mencari solusi selanjutnya.
Saya pernah dapat nasehat dari temen. Gak pa’pa kalau mo nangis. Monggo aja nangis, tapi pakai timing, alias pakai waktu. Dan jangan lama-lama karena..live must go on.
Nah, itu kan kalau dari diri sendiri.

Yang ini unik lagi. Di Jepang, ada loh perusahaan yang memperhatikan kondisi karyawannya yang lagi patah hati. Dilansir dari situs berita Reuters, perusahaan itu namanya Hime & Company.
Pihak manajemen perusahaan ini sangat memahami “kegundahan” akibat patah hati. Makanya mereka memberikan fasilitas tambahan, yaitu fasilitas cuti patah hati untuk para karyawannya.
Dalam website resminya, yang ditampilkan di Kompas Cyber dijelaskan, “Banyak perusahaan yang memberi cuti melahirkan dan mengklaim telah berbuat baik untuk para perempuan… Saat sakit orang mengambil cuti, tapi tidak saat mereka patah hati. Padahal, dalam situasi demikian sangat sulit untuk bekerja, bahkan orang kerap membuat kesalahan dan melakukan hal-hal aneh.”

Singkatnya, pihak manajemen perusahaan tersebut sangat mengerti bahwa cuti patah hati bukan hanya efektif untuk karyawan itu sendiri, tapi juga untuk pihak perusahaan. Dalam kondisi mental yang terpuruk akibat patah hati, bisa jadi seseorang akan membuat keputusan yang salah, termasuk keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan yang akhirnya bisa merugikan perusahaan.

Setiap karyawan di perusahaan tersebut berhak atas cuti patah hati tersebut. Mereka yang berusia awal 20 tahunan boleh mengambil cuti ini satu hari dalam setahun. Sedangkan yang berusia pertengahan 25 tahun dapat jatah dua hari, dan yang berusia 30 tahun ke atas mendapat jatah tiga hari untuk berlibur mengobati patah hatinya.

Dalam masa cutinya, mungkin mereka bisa memesan kamar hotel, lengkap dengan sekotak tisue dan cokelat. Uhukkksss…..
Nah, keren nggak tuh kebijakan manajemen perusahaannya. Bayangin deh kalau kita juga bisa menerapkannya, dapat jatah untuk mengobati sakit hati. Tapi kalau dah lewat jatah cutinya, tetep sakit hati gimana yah??!!!
Banyakin doa aja kaleee…….

6 thoughts on “Cuti Patah Hati di Jepang

  1. Sungguh patah hati membuat orang menjadi tidak produktif. Daripada membiarkan mereka bekerja dalam kondisi begitu dan menimbulkan kerugian untuk perusahaan, mending yang dikasih libur untuk menenangkan diri. Perusahaannya jeli sekali ya? Salam kenal.

    —===—
    Yah, begitulah🙂
    Kita tunggu apakah kebijakan itu bisa diterapkan juga di Indonesia yah.
    Tapi tentunya dengan berbagai pertimbangan karena tentunya rawah penyalahgunaan😀
    Anyway..thx komentarnya

    Wiek

  2. hmm….emng sih patah hati itu agak menyakitkan, namun klu dibiarin ajj ya bakat nggak menentu…..

    klu da cuti patah hati…wah itu bakalan jadi sebuah berita yg wow…..hehehhehhe

    just looking oround your wordpress…..:D

    …….good luck………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s