Oleh: wiek | September 13, 2015

Kabut Asap, Kita Belum Bisa Pulang, Nak

image

Setelah hampir sebulan di tempat ‘pengungsian’ (rumah mbah), krucil pun kangen rumah
Q: Bunda, ayok kita pulang! Kandra mau pulang ke rumah
B: Besok ya, Nak. Di rumah kita lagi banyak kabut asap. Nanti kita susah bernafas
Q: Kan kita punya masker, jadi kita pakai masker aja, Bun

Duh, Nak, seandainya saja masker ‘lucu’ punyamu itu mampu menghalau partikel kabut asap agar tak masuk ke saluran pernafasan. Pasti kita bisa pulang sekarang juga.
Tapi asap masih pekat, Nak. Sampai akhirnya Ayahmu pun minta jadwal penerbangan kita dimundurkan aja.
Bunda ngerti kok, Nak. Kamu pasti kangen pengen main-main dengan teman di Pekanbaru. Tapi kita harus bersyukur bisa menghindar sesaat dari kepungan asap jahat itu.
Bayangnya, betapa banyak teman-temanmu di Pekanbaru yang tak punya pilihan untuk ‘mengungsi’ karena berbagai alasan. Betapa banyak saudara kita di Riau, Jambi, dan daerah lain yang harus menghisap asap setiap saat.
Kita sedikit lebih beruntung, karena hampir sebulan ini bisa menikmati udara segar di kampungnya Mbahkung-mbahuti.
Meskipun kamu pun juga menjadi korban ISPA karena kabut asap sebelum kita ‘ngungsi’

image

Jadi kita berdoa ya, Nak. Semoga teman-temanmu dan keluarga mereka, juga keluarga kita di Pekanbaru, Riau dan daerah lain (Sumatera dan Kalimantan) yg dikepung asap selalu dilindungi Allah.
Karena sepertinya, meminta perlindungan pemerintah pun sia-sia.
Let’s pray for Riau…dan ikut tanda tangani petisi Om Hendra Efivanias ini..

.
Petisi Asap untuk Pemerintah RI dan Pemprov Riau

Istilah Kerkop berasal dari bahasa Belanda, yaitu Ker-hof. Yaitu komplek pemakaman atau kuburan gereja yang sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda.

image

Tapi sekarang, istilah ini dikenal sebagai warung jamu (cekok) legendaris di Jogja. Tepatnya di JL Brigjen Katamso, Jogja (ato ada yg nyebutnya di depan THR. Pdhl THR-nya kyknya dah ga berfungsi lagi).
Kata orang-orang sih, dulunya memang ada makam Belanda di depan kedai jamu itu. Tapi sekarang sudah berubah menjadi bangunan lain.

Kedai jamu Kerkop ini sudah ada sejak tahun 1870-an. Sepenglihatanku, ada dua kedai yang berdekatan. Ntah mana yang lebih duluan lahir, tapi yg aku datangi kali ini adalah kerkop sisi selatan.

Kedatangan bunda dan Qandra bukan tanpa alasan. Kami memang sengaja mau ‘nyicipin’ jamu yang kepopulerannya tak lekang oleh waktu ini. Kami datang bareng Mbah uti dan Felin dengan tujuan mencari obat batuk pilek utk Qandra dan Felin.

Di sini memang tersedia beragam jamu yang langsung diracik dari rempah-rempah. Namun yang paling legendaris adalah metode khusus untuk anak-anak. Yaitu metode ‘Cekok’

Nah, utk org asli Jogja, biasanya dah ngerti metode ini. Ato malahan pernah merasakan sensasi menikmati jamu tradisional dengan metode ini.

Biasanya ni ya, kalau si anak tak mau minum jamu, maka anak tersebut anak dicekoki dengan kain yang di dalamnya sudah diisi rempah2 basah.

Seperti juga Qandra yg sudah jelas gak bakalan doyan. Jadi harus pakai cara dicekokin jamu.

Caranya, Bunda megang Qandra dengan sekuat tenaga sambil di-pithing (*agak njlimet jelasin istilah ini). Kemudian dengan sigap, peracik jamu pun mengucurkan perasan jamu ke mulut anak.

Bisa dibayangkan proses pemberontakan dari si anak ya, Bu.
Tp jangan khawatir krn ibu peracik jamu udah ahli. Cairan kental jamu pun mengalir masuk ke tubuh anak. Setelah itu, tinggal tunggu reaksinya saja.

Hampir setiap hari, kerkop ini selalu ramai didatangi pengunjung. Dan cukup banyak juga ‘pasien’ anak-anak. Karena khasiatnya masih banyak diyakini oleh masyarakat.

Untuk anak yang demam, batuk pilek, atau anak yang susah makan…banyak orangtua yang memilih kerkop sebagai jawabannya.

Trus gimana ama penyakitnya Qandra?
Sehari setelah dicekokin, masih meler sih hehehe…entah belum kelihatan reaksinya atau virusnya yang udah bermutasi jadi lebih kuat ya. Tapi belakangan ketahuan kalau ternyata Qandra kena ISPA plus Flu Singapura.

Dan sembuhnya pake obat resep dari dokter.
Namun setidaknya bunda coba carikan alternatif penyembuhan. Sekalian, menjajal sensasi nyekokin anak (*halah). Soalnya kata mbah uti, dulu bunda juga sering dicekokin di situ hehehe…
Maap ya Nak, Bunda bukan balas dendam kok.

Oleh: wiek | Agustus 20, 2015

Ingat…ingaaat Mom! Sekarang Bulannya Vit A

image

Ini vitamin A-ku, mana punyamu?:D

Hayooo, para buebu yg punya balita, siapa yg lupa kalo sekarang bulannya vitamin A?
Hehehe..sama kok, saya juga sempat lupa.
Tp trus diingetin Cuya  (adiknya ayah Qandra) klo bulan ini harus kasih Vit A ke anak. Nah, mumpung masih bulan Agustus, bagi yg lupa…silahkan cari posyandu atau puskesmas terdekat utk minta vitamin ini. Gratiiisss..tiiiissss!!!

Bicara tentang Vit A, apa sih pentingnya dikasih ke anak balita kita? Toh, vitamin ini juga bisa kita dapatkan di menu harian seperti buah dan sayur.
Kenapa harus ada bulannya (Februari dan Agustus). Padahal tiap hari juga bisa kita konsumsi sendiri kan??
Saya mikir gitu juga, kok Buebu!
Dan setelah tau manfaatnya, jadi lebih yakin utk kasih ke anak.

Dari berbagai sumber yang saya baca ni ya, suplementasi Vitamin A adalah program dari pemerintah dengan pemberian Kapsul Vitamin A bagi anak usia 6-59 bulan dan ibu nifas. Tujuannya untuk balita, penting bagi daya tubuhnya. Sedangkan untuk ibu nifas, bisa mempercepat pemulihan tubuh pasca melahirkan.

Kapsul Vitamin A yang digunakan dalam kegiatan Suplementasi Vitamin A adalah Kapsul Vitamin A dosis tinggi.
* Kapsul biru (mengandung Vitamin A 100.000 SI), diberikan kepada bayi usia 6-11 bulan
* Kapsul merah (mengandung Vitamin A 200.000 SI), diberikan kepada anak balita usia 12-59 bulan setiap Februari dan Agustus. Sedangkan kepada ibu nifas (0-42 hari pasca bersalin) sebanyak 2 kali yaitu: 1 kapsul diberikan segera setelah persalinan dan 1 kapsul lagi diberikan 24 jam sesudah pemberian kapsul pertama.

Karena dosis kapsul itu tinggi, jangan sampe berlebihan, ya! Memang sih, vit A gak berbahaya bagi tubuh. Tp segala sesuatu itu, kalo kebanyakan bisa memunculkan dampak tidak baik. Jadi sesuaikan dengan takarannya.

Vitamin A merupakan salah satu zat gizi penting untuk tubuh selain karbohidrat dan protein  yang larut dalam lemak. Vitamin A ini disimpannya di dalam liver.
Karena Vitamin A tidak dapat dibuat sendiri oleh tubuh, maka harus dipenuhi dari luar melalui makanan atau minuman. Dan meskipun kebutuhannya hanya sedikit, tapi penting sekali untuk penglihatan, pertumbuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.

Vitamin A paling sering dikenal dengan manfaatnya utk mata. Seperti mencegah kebutaan atau mata rabun.
Dan memang Vitamin A ini penting sekali, karena ia dapat membantu proses penglihatan. Misalnya dalam adaptasi dari tempat terang ke tempat gelap.

Selain itu, dari beberapa riset ilmiah ditemukan bahwa balita yang mempunyai status Vitamin A baik, mempunyai angka kematian lebih kecil dibandingkan balita dengan status Vitamin A tidak baik. Kebutuhan Vitamin A juga meningkat pada penderita infeksi seperti penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare. Selain itu, Vitamin A juga sangat bagus untuk ibu Nifas (setelah melahirkan). Bahkan baik juga untuk penderita Campak.

Trus, bagi buebu yg masih ‘ogah’ ikut program bulan Vit A dari pemerintah dengan alasan tertentu, gimana?
Menurutku ya sah-sah aja, wong urusan balita kan jelas tanggung jawab orangtuanya.
Tapiii ni ya, mengingat manfaat positif dari Vit A ini, baiknya ya konsumsi setiap hari dengan makanan yang mengandung vitamin ini.
Ada kok, sumber makanan yang tinggi kandungan Vit A dan bisa dikonsumsi harian. Diantaranya:
1. Air Susu Ibu (ASI)
Tapi ini jelas untuk Bayi (0-6 bulan)
2. Dari sumber protein hewani ada hati, ikan, daging, ayam, minyak hati ikan, telur
3. Bisa juga di sayur bayam, daun ubi kayu, daun singkong, daun katuk, daun bluntas, kecipir, kangkung, daun pepaya, daun sawi hijau
4. Labu kuning, tomat, wortel, ubi merah
5. Buah-buahan juga bisa dari pepaya, semangka, mangga, jambu biji merah

So, apapun keputusan buebu, yang tetap harus dijaga adalah asupan utk balita kita. Karena kita tentunya ingin buah hati kita menjadi manusia berkualitas dengan tubuh yang sehat.

Oleh: wiek | Agustus 14, 2015

Setelah 6 bulan..Saya nongol lagi deh

Dr februari sampe agustus…wah, ternyata dah 6 bulan absen nulis di sini.
Kemana wae?
Padahal ya ngadep lepi dan ga lepas gadget, tp kok ya ga sempat ngerefresh blog dgn tulisan baru. Dan padahaaaaal…banyak cerita yg bisa dibagiin 😍
Gini ni, kalo dah kena penyakitnya blogger pemalas 😄
Okeh, nggak perlu berlama-lama dan panjang lebar lagi. Postingan ini memang sengaja utk eksis lagi di blog ini.
Semoga besok2 nggak males ngelanjutinnya. Sekaran mo main dulu sama krucils…

Oleh: wiek | Februari 26, 2015

Jogja = Solo???

Tulisan ini nggak bermaksud mendeskreditkan siapapun maupun berbau Sara ya. Cuman pengalaman pribadi penulis selama 7 tahunan tinggal di Pekanbaru aja. 
Jadi gini, seperti pendatang pada umumnya, atau orang baru aja jumpa pastinya ada pertanyaan pembuka basa-basi.
Ini sebenarnya umum terjadi, dimana pun juga. Dan pertanyaan yang paling sering terlontar adalah, “Aslinya mana?”
Ada juga modifikasi lain, seperti datang dari mana, asalnya mana, dll, dst, dsb..

Nah, berikut cuplikan Tanya (T) dan Jawab (J) yang paling sering saya alami selama di sini. Dan contoh berikut ini adalah obrolan dengan penjual martabak, pas lagi jajan sama krucilku semalam.
(T= pertanyaan tukang martabak / J=jawaban saya)

T : Dari Medan ya?
J : Bukan
T : Trus, aslinya mana?
J : Dari Jawa 
(*jawaban kayak gini ni pas lagi baek. Kalo nggak, ya dijawab mana-mana aja deh hehehe…)
T : Oh…Jawa Medan ya? 
(*kayaknya kekeuh, maksa banget asliku dari Medan)
J : Bukaaaaan…dari Jogja
T : Oh dari Solo 
J : Bukan Solo…dari Jogja
T : Iyalah, sama aja. Jogja kan Solo juga 
(*gleek…Seringnya sih saya ngeyel…)
J : Lain dong. Jogja ya Jogja. Solo ya Solo. Provinsinya aja beda
T : Sama aja ah…Jogja tu Solo juga kan

Hadeeh…kalo nemu orang kayak gini. Sudahlah, bakalan debat kusir. Dan saya pun ,endingan milih diem aja. Selama tujuh tahuan di sini, sering dibikin keki ama yang kayak gituan. 
Ternyata Saudara-saudara yang budiman, susah menjelaskan bahwa Jogja beda ama Solo. Padahal sudah jelas provinsinya beda. 
Mungkin yang saya rasanya ini, mirip dengan rasanya orang Sumbar ditanya asalnya dari mana, di Jogja. 
Meskipun mo dijawab asalnya dari Pariaman, Solok, Bukitinggi, dll…ujung-ujungnya tetep dibilang…. Ooow, dari Padang!
Yah, tapi setidaknya masih se-Sumbar kan ya. Kalo Jogja ama Solo, kan ga se-apa2. Eh, ada sih..sesama pengguna bahasa jawa. 
Nah, kalau dasarnya karena sama-sama bahasa ato sama-sama punya kraton…kenapa ayah Qandra ndak dikira orang Malaysia. Kan bahasanya sama kayak bahasanya Ipin-Upin??
Ah entahlaaah…..

Selain percakapan itu, ada beberapa pertanyaan yang sering bikin keki di sini hehehe…
* Umurnya berapa?
* Kerja dimana? 
* Gajinya berapa? 
(Bahkan ada tetangga komplek yang kayaknya suka penasaran dan nanya ginian ke tetangga lainnya)
* Lulusan apa? 
(yang ini juga cukup sering. Begitu jawab asal dari Jawa trus nanya lulusan…yg nanya sambil dijawab sendiri) “Oh orang Jawa. Lulusan apa? SMA ya?”
Sok tau kan…
Eh…tapi kok identik org Jawa lulusan SMA ya??? 
Ada yang tau jawabannya?

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.144 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: