Orang-orang itu adalah bapak² di jajaran KPAID Kota Pekanbaru dan rekan² media. Trenyuh kumelihatnya…gadis sekecil itu harus mengalami pahitnya hidup. Terlalu dini rasanya, ia harus mengenal kejamnya hidup ini.
YT mengalami tindak asusila yang dilakukan PAMANNYA sendiri, Indra Firdaus (20). Paman, sosok yang seharusnya bisa melindunginya, layaknya seorang ayah. Menjadi teladannya. Namun pada kenyataannya justru orang yang telah menghancurkan masa depan YT.
Di kantor KPAID, YT didampingi ayahnya. Seorang pria berusia 38 tahun yang sehari-hari bekerja membuat batu bata. Wajah sang ayah tampah lusuh dan letih…atau mungkin “menyesal” karena tak bisa menjaga putri bungsunya.
Kepada wartawan, ayahnya menceritakan kronologis tindak asusila tersebut. Peristiwa itu sudah kali kedua terjadi pada YT, namun baru kejadian kedua ini yang diketahui yakni pada Senin (30/3). Saat itu korban sedang sendirian di rumah karena kedua orang tuanya sedang bekerja di bedeng batu bata.
Saat sendirian itulah, Indra Firdaus memanfaatkan waktu untuk memperkosa Yt. Namun kejadian yang berlangsung pukul 11.00 WIB tersebut ketahuan saudaranya yang lain. Saksi yang masih duduk di kelas 4 SD tersebut juga mendapatkan ancaman akan diperkosa, tapi langsung berlari keluar karena ketakutan.
Saksi langsung melapor ke ibu korban. Setelah kejadian, korban juga menunjukkan perubahan perilaku yang mendadak murung dan berjalan seperti orang kesakitan. Barulah setelah korban bercerita, orang tuanya langsung melapor ke Polsekta Tenayan Raya yang dilanjutkan ke KPAID Pekanbaru.
Aku lupa sudah berapa kali dipanggil Ketua KPAID Pekanbaru untuk meliput aduan² ke mereka. Pak Ekmal bilang sejak tahun 2009, ini adalah kasus pemerkosaan anak di bawah umur yang ke empat. Tapi kurasa lebih dari empat kasus di Pekanbaru ini.
Sekali lagi tamparan buat para orang tua, yang memiliki anak-anak kecil. Betapa rapuhnya mereka, jika kita lengah menjaganya. Dan betapa besar taruhannya, jika kejadian itu menimpa. MASA DEPAN!!!
Anak-anak itu…
Bagaimana masa depannya?! Adilkah hidup ini, jika mereka harus menanggung “sesuatu” yang belum disadarinya. YT, ia hanya tahu pamannya telah menindihnya. Ia hanya merasakan sakit saat buang air kecil. Ia juga hanya tau harus diam jika tidak ingin dipukul sang paman. Ia sama sekali tidak tahu, apa arti kehilangan “mahkota” itu.
Muak rasanya!
Bukan muak karena harus mendapat tugas liputan kasus seperti itu. Namun muak karena harus memaparkan fakta-fakta kekejian para pelaku. Memaparkan kepada khalayak banyak tentang kejadian yang menimpa YT dan juga anak-anak di bawah umur lainnya.
Apa manfaat untuk mereka atas pemberitaan kasus ini. Tetap saja “mahkota” itu tak kan kembali lagi. Dan justru mereka menjadi objek kita. Pernahkah terlintas, akan seperti apa masa depan mereka kelak…(yang memang tak ada yang tau selain Sang Pencipta)
Hanya terbersit harapan di lubuk hatiku. Semoga masa depan yang cerah masih berhak dirasakannya. Amin









MasyaAllah, sedih , miris banget baca true storynya gadis kecil ini ya mbak, semoga ia tabah menghadapi cobaan ini dan Allah akan memberikan keadilan kepadanya…Amin
Oleh: H35TI on April 7, 2009
at 3:54 am
nasib….hehehe emang kita tuhan…nasib itu, sudah diatur…
sebagian besar secara gamblang emang nasib mereka bakal tak jelas. Tapi bisa jadi nasibnya kelak akan lebih dari kita….
Oleh: ibal on April 14, 2009
at 12:26 pm
Dilema jadi jurnalis ya Wiek? Ketika harus mengekspos sesuatu yang merupakan aib orang lain.
Moga ada pencerahan deh… BTW besok (Sabtu/18/04) blogger bertuah kopdar di lobby Bappeda Kota Pekanbaru. Jam 3 sore. Datang ya..
Oleh: bang fiko on April 17, 2009
at 4:26 pm