ABRASI yang terjadi di berbagai pulau di nusantara telah diketahui khalayak umum. Gelombang air akibat padatnya jalur pelayaran dan juga aktivitas penebangan hutan mangrove (bakau) yang nota bene menjadi pelindung tepian pulau. Bahkan penebangan yang terus saja dilakukan bisa menyebabkan hilangnya pulau-pulau akibat tingginya laju abrasi.
Namun di tengah dilematisasi abrasi yang mengancam pulau-pulau kita, ada sekelompok orang yang menggantungkan hidupnya dari perburuan kayu mangrove atau kayu bakau. Seperti Nuh, penduduk suku asli dan Wagiman yang tinggal di kampung Sesap, Meranti yang menggantungkan hidup dari usaha pembuatan arang atau kilang arang.
MENYUSURI jalanan Desa Sesap, Kecamatan Tebing Tinggi, Bengkalis dengan mudah kita jumpai hutan bakau di sisi kanan dan kiri jalan.Tanaman yang tumbuh di rawa-rawa itu selain menjadi pelindung pesisir pulau, ternyata juga menjadi sumber nafkah beberapa warga di wilayah itu yaitu sebagai bahan dasar pembuatan arang kayu.
Wilayah itu memanjang hingga ke Sungai Sesap. Ada semacam pematang jalan yang membelah desa tersebut. Beberapa rumah panggung kayu yang umurnya telah tua pun dengan mudah kita temui jika menyusuri jalanan itu. Namun beberapa di antaranya adalah bangunan baru.Menurut warga setempat, bangunan itu merupakan bantuan dari pemerintah untuk tempat tinggal penduduk suku asli yang masih ada di situ. Tapi tak semuanya mendapatkan rumah bantuan tersebut.Nuh (63) termasuk yang tak mendapatkannya. Bersama sang istri, ia menempati pondok yang tak bisa dikatakan bagus.
Dilihat dari tampilannya saja, kayu-kayu penyangganya tidak lagi berdiri tegak. Sudah miring beberapa derajat.Rumah itu tidak bisa langsung dilihat dari jalan utama desa. Perlu melewati sebuah jembatan kayu selebar satu meter dan panjang dua meteran. Setelah itu disambung dengan jalan tanah yang seolah-olah menembus hutan bakau. Sekitar 50 meter, barulah ketemu pondok kayu milik Nuh.Tak jauh dari pondoknya, yaitu sekitar 20 meter, terdapat sebuah bangunan yang mirip tungku raksasa. Sore itu, di hari Selasa (1/4) terlihat seorang pria tua bertelanjang dada sibuk dengan kapak besi dan batangan kayu bakau-nya.Tubuhnya kurus, tampak otot-ototnya menonjol di balik kulitnya yang telah keriput.
Namun ayunan kapak terus menganyun dan membelah kayu-kayu bakau.Nuh, panggilan bapak tua itu, kemudian memasukkan potongan-potongan kayu ke dalam tungku api.Nuh menyebutnya Kilang Arang. Sedangkan beberapa orang lain menyebutnya dengan panglung atau bangsal arang. Bentuknya melingkar seperti sebuah tunggu dari batu-bata dengan lebar sekitar 10 meter dan tinggi lima meter.Bagian atapnya ditutup dengan atap rumbia yang warnanya coklat kehitam-hitaman. Namun tak hanya atap yang ternyata berwarna hitam. Tanah di sekitarnya juga berwarna hitam. Tentu saja hitam, tempat itu merupakan tempat untuk memproduksi arang yang notabene berwarna hitam legam.
Seakan tak peduli dengan peluh yang menetes dari tubuhnya, Nuh mengambil kembali kayu-kayu bakau yang diameternya sekitar lima hingga 10 centimeter untuk dipotong dan dimasukkannya lagi ke dalam bara.Namun sesekali ia menghentikan aktifitasnya sambil tangannya menyentuh bagian ulu hati.”Kadang kala sakit di sini,” ujarnya tatkala Tribun bertanya kenapa berhenti. Kemudian Nuh menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.Pria yang memiliki tiga orang anak dan enam cucu ini telah bekerja menjadi buruh sorong kilang arang sejak tahun 2000. Ia bekerja hingga malam hari sebagai penjaga malam. Dalam sebulan ia mendapatkan penghasilan Rp 600 ribu.”Cukup lah untuk hidup sehari-hari,” terangnya.
Apalagi ia hanya hidup bersama sang istri karena ketiga anaknya sudah tinggal terpisah dengan mereka. Namun masih dalam satu kawasan yang terdapat sektiar 50 KK Suku Asli.Ada sekitar 16 kilang arang serupa di Desa Sesep, yang merupakan wilayah hunian masyarakat Suku Asli dan beberapa pendatang dari Jawa (transmigran).Kilang-kilang arang itu dimiliki oleh pengusaha-pengusaha Tionghoa, yang terlalu mereka kenal. Begitu juga dengan lokasi pemasarannya, tidak mereka ketahui dengan pasti. Hanya tau arang-arang bakau itu dibawa dengan kapal ke luar negri. “Kalau tak ke Singapura ato Melaka,” jawab Nuh pendek.Tak hanya Nuh saja, beberapa karyawan kilang arang lainnya memang tak pernah tau akan dibawa kemanakah hasil pembakaran yang bisa memakan waktu tiga hingga empat bulan itu.
Wagiran, kepala bangsal (kilang arang) pun mengakui hal itu.Meskipun pria berusia 35 tahun ini telah lama kerja di bangsal, namun ia tetap tak tahu pasti. Yang terpenting adalah usaha itu memberikan hasil baginya. “Satu bulan sekitar 700an ribu, tapi ada juga yang dibayar harian. Biasanya Rp 22 ribu per hari,” jelasnya.Pembuatan arang memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Para pekerja terus mengisi potongan kayu bakau hingga tungku penuh. Oleh karena itu jelas membutuhkan jumlah kayu bakau yang banyak.Seiring peraturan penebangan liar, pemerintah juga mulai membatasi penebangan hutan mangrove, terkait tingginya tingkat abrasi. “Itulah susahnya Mbak, sekarang susah dapat kayu. Makan apa kami kalau nggak kerja di sini, padahal kebanyakan warga sini bergantung pada kilang arang,” terang Wagiran.
Batang kayu bakau sangat diminati untuk bahan baku arang. Arang kayu bakau berkualitas tinggi. Begitu juga kayu bakarnya, karena mudah menyala meskipun masih segar.(ans)




