Istana Kerajaan Siak adalah sebuah kerajaan Melayu Islam yang terbesar di Daerah Riau.
Kerajaan ini mencapai masa jayanya pada abad ke 16 sampai abad ke 20. Menurut sejarah, ada 12 sultan yang pernah bertahta di kerajaan tersebut. Kini sisa peninggalan bersejarah ini masih bisa dinikmati di daerah Riau, yaitu berupa sebuah istana yang dibangun oleh Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889. Istana tersebut diberinama ASSIRAYATUL HASYIMIAH yang di dalamnya masih dapat dilihat barang-barang kerajaan yang menjadi koleksi bersejarah.
Jumat (19/10) kembali lagi saya melakukan perjalanan ke Siak.
Kenapa Siak? Bukannya kemarin sudah ke Siak? Bahkan beberapa orang mengatakan bahwa menyusuri Siak, tidak membutuhkan waktu yang lama. Tapi saat itu keinginan hati begitu kuat untuk kembali lagi melakukan perjalanan ke Siak. Wolooh…kaya apaan aja.
Tak jauh berbeda dengan perjalanan sebelumnya, kali ini perjalanaku menuju Siak pun dilalui melalui jalur air. Yaitu dengan menggunakan speedboat dari Pelabuhan Sungai Duku. Pelabuhan ini terletak di area Tanjung Rhu, Pekanbaru.
Di pelabuhan kecil itu terdapat beberapa kios penyedia tiket speed boat. Nah, kalau mau ke Siak, perhatiin aja tulisan yang menempel di kios-kios itu. Dan hampiri kios yang menyediakan tiket menuju Siak. Kemarin, aku pilih angkutan speed boat “Siak Wisata Express”
Tarifnya standar kok. Sekali naik speed boat, kita perlu mengeluarkan kocek sebesar Rp 60 ribu. Ada 6 trip pilihan jadwal keberangkatan dari Pekanbaru. Paling pagi pada pukul 07.30 WIB dan paling sore adalah pukul 15.00 WIB.
Karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor, aku baru bisa ikut di trip terakhir, yaitu pukul tiga sore. Dari sekian penumpang yang ikut, kuperhatikan penumpang kapal sebagian besar adalah keluarga. Mereka membawa serta anak-anaknya, sehingga suasana jadi ramai dengan suara anak-anak.
Sangat kontras dengan pengalamanku sebelumnya. Karena penumpangnya rata-rata di usia produktif (18 tahun sampai 50 tahunan), maka suasananya lebih tenang. Lalu, tak lama menunggu. Perjalanan pun dimulai setelah seluruh penumpang speed boat “Siak WIsata Express” naik ke perahu.
Ada lagi perbedaan dalam perjalananku kali ini. Kali ini aku berhasil mendapatkan tempat duduk tepat di paling tepi. Urutannya pun pas di tengah bagian kapal. Jadi, kali ini aku bisa menikmati pemandangan Sungai Siak.
Selama perjalanan, yang paling sering terlihat adalah aktivitas nelayan di tepian Sungai Siak. Satu waktu kami berpapasan dengan seorang nelayan yang sedang mengayuhkan dayung sampannya. Tak jauh darinya, tampak dua orang nelayan dalam satu perahu.
Keduanya sibuk dengan jaring ikan yang sebagian berada di dalam air. Sungguh tampak nuansa khas nelayan- nelayan sungai.
Perjalanan terus berlalu. Sekitar satu jam menyusuri Sungai Siak, kami berpapasan dengan kapal yang ukurannya hampir sama dengan speedboat yang kami kendarai. Di sekitar kapal itu terdapat kapal-kapal kecil yang berisi dua sampai tiga penumpang. Kurang tahu pasti, apa yang mereka lakukan. Tapi kami sempat saling menyapa dan terus melanjutkan perjalanan.
Sepanjang sisa perjalanan, tak banyak perbedaan. Kulihat di tepian Sungai Siak terdapt beberapa rumah warga. Modelnya tentu saja rumah panggung dyang terbuat dari kayu.
Tampak reot. Tapi luar biasa, masih bisa digunakan untuk beraktivitas oleh penghuninya.
Meskipun dari kejauhan, tampan terlihat anak-anak bermain di sana. Ada juga sepasang muda- muda yang duduk bersebelahan, menghadap ke arah sungai. Sungguh indah. Pemandangan yang jarang-jarang kulihat di perkotaan. Kesederhanaan dan kehidupan yang tampak simpel namun unik.
Kutatap semua itu dalam-dalam. Lalu kuperpikir….itukah KEBAHAGIAAN???
Seolah tak peduli dengan pikiranku, speedboat terus melaju. Menyusuri terus sungai yang konon kabarnya adalah sungai terdalam di Indonesia itu. Di beberapa tepian sungai tampak juga wilayah yang terkena abrasi. Jadi memang tepatlah, kalau tepian sungai itu harus dibangun turap, untuk mencegah semakin parahnya abrasi.
Hampir dua jam aku berada di atas speedboat. Hingga akhirnya, dari kejauhan tampak sebuah jembatan besar. Jembatan Barelang (itu yang pertama terlintas di pikiranku).
Tapi sebenarnya bukan. Aku sedang menuju Siak. Jadi, tak mungkin melalui jembatan penghubung antar pulau yang tekenal di Batam itu.
Itu adalah Jembatan Siak.
Jembatan yang beberapa waktu yang lalu telah diresmikan Presiden SBY. Jembatan yang menjadi tempat tujuan wisata baru di Kabupaten Siak, Riau. Dan memang, sekilas dilihat, jembatan itu mirip dengan Jembatan barelang di Batam. (ans)



