Posted by: wiek | Juni 11, 2008

Belajar Multiply

Hum…entah ini situs gratisan ke berapa yang kujajaki. Sampai aku sendiri lupa.

Multiply

Tidak ada pertimbangan khusus. Hanya ketertarikan untuk menjajakinya. Dan akhirnya, aku pun berhasil mendaftarkan diri ke dalam situs itu.

Oh iya, aku lupa belum bercerita kenapa membuat account baru. Gini nih….

ehem…ehem…

Saat chat kemarin siang, ada seorang teman yang ngajak bikin situs. Yah, pemikirannya belum begitu mantap sih. Tapi idenya cukup menarik minatku. Informasi online, semacam portal.

Meskipun dengan kemampuan yang setengah-setengah (hum, mungkin sebenernya seperempat aja belum nyampai), aku setujui dan menerima tawarannya. Dan kini….jadilah situs kami. Sorry friend, belum bisa dipublikasikan karena masih awut²an.

Sekarang aja kepalaku dah puyeng gara-gara lihat halaman yang kacau balau itu. Dan berusaha untuk merapikannya. Nah, sekarang ini…pas banger sekarang loh! Aku lagi puyeng cari cara ngilangi banner multiply di situs itu.

Fiuh…anybody help me plzz…..

http://multiply.com/setup/pages/upload-css ….fiuh..opo kiy

Posted by: wiek | Mei 23, 2008

Pilkada oh Pilkada

Pekanbaru, pukul 08.07 WIB (lokasi: masih di kamar kost)

“Selamat pagi Mbak..” suara seorang pria yang asing di telingaku, menyapa dari seberang telepon genggamku.

“Pagi, siapa ini ya?” tanyaku kemudian.

“Saya H****a yang kemarin datang ke kantor,” balasnya

“Oh, Mas ***ya. Gimana Mas, ada apa ya?” jawabku sambil merubah posisi. Tadi kan posisinya tidur (*jangan-jangan kliatan banget malasnya, jam segitu tapi belum beranjak dari tempat tidur). AKu duduk, masih di kasur sih, lalu sedikit menurunkan nada suara supaya terdengar lebih berwibawa (ceileee…)

“Gini Mbak, saya sudah baca tulisannya. Saya ucapkan terima kasih sudah dimuat, *bapak* juga sudah saya beritahu dan sudah membaca. Tapi gini, ada beberapa content-nya yang salah,” papar pria dari seberang telepon.

“Salah gimana ya, Mas?” tanyaku seolah-olah tanpa dosa.

“Ada beberapa, yang pertama soal penulisan DPC, di situ Mbak tulisnya DPP, padahal itu kan tingkat kabupaten kota, jadi bukan DPP melainkan DPC. Yang kedua soal pemilihan umum, saya maksudkan pilkada dan bukannya pilgubri,” lanjutnya.

“Oh gitu. Lalu maksud Mas H****a gimana?” jawabku.

“Masih ada lagi Mbak. Soal tiga poin yang digusung partai P**, kan salah satunya kami sebutkan dukungan kepada Pak Th****R. Kok gak disebut ya?”

“Hum, kalau itu masalah editing Mas. Saya memang punya kewajiban nulis, tapi atasan saya punya hak untuk mengedit. Jadi itu sudah wewenang atasan saya untuk menghilangkan content yang dirasa bisa dihilangkan,” jelasku.

“Lalu gimana kalau dinaikkan lagi. Semacam ralat, gitu,” pintanya.

“Waduh, susah itu Mas. Saya akui salahnya dan minta maaf. Tapi kalau menaikkan lagi rasanya susah. Apalagi nggak ada peristiwa lain yang kuat. Kemarin pun sebenarnya gak bisa, tapi ada pertimbangan khusus makanya bisa naik,” kembali lagi kuberikan pemaparan padanya.

“Iya, jadi gimana ya Mbak baiknya?” nada suaranya sedikit melemah.

“Gini aja, gimana kalau pas besok ada peristiwa atau acara, Mas beritahu lagi. Siapa tau nanti sekalian bisa memberi keterangan lebih rinci,” tawarku.

Setelah tawaran itu, H***a pun tidak banyak protes. Berbasa-basi sebentar kemudian mengakhiri pembicaraan.

Yah, sebenarnya sejak orang itu datang ke kantor yang menyatakan tujuannya aku sudah punya rencana *Jail* Kusebut jail soalnya emang udah terpikir akan ada yang kuilangin dari informasi yang diberikannya. Dan informasi ini nggak begitu penting menurutku, tapi sebenarnya cukup vital buat dia.

Dia pasti ditanya sama *si bapak* yang jadi sponsor utamanya, kenapa tidak menaikkan namanya. Kurasa tujuan utamanya datang ke kantor pun gak jauh dari maksud itu. Menyampaikan dukungan terhadap satu tokoh yang akan melaju ke pilkada mendatang.

Pilkada merupakan sebuah hasil ujian (test) loyalitas dari kader-kader partai. Saat-saat jelang pilkada, para kader biasanya “jor-joran” dalam melakukan manuver-manuver politiknya. Di era itulah mereka pun dituntut untuk terus beraktivitas untuk menggalang massa sebanyak-banyaknya. Termasuk memanfaatkan pers. Yah, menyambut pilkada, nuansa di masyarakat pun terasa kental dengan nuansa politis (saya tidak ingin masuk ke ranah politik uang, karena tentunya sudah banyak tulisan yang mengulasnya).

Sepenggal dialog melalui telepon di atas hanyalah pengalaman kecil dari saya yang menjadi bagian dari insan pers, yang sudah barang tentu menghadapi banyak godaan di seputar pilkada. Yang saya alami, jelas belum seberapa dibanding teman-teman yang lain. Tapi cukup memberikan gambaran…meski pilkada belum mulai. Semangat volunterisme sudah muncul sejak dini.

Partai atau tokoh apa nih yang Anda dukung? Sudahkah bersiap menjadi volunter²?

Hihi…that’s up to you. Mudah²an aja pilkada ke depan dapat memunculkan tokoh yang bisa membangun bangsa. Bukan sekedar tokoh yang kuat dukungan tanpa memiliki kompetensi yang pantas

Posted by: wiek | Mei 19, 2008

Cuti Patah Hati di Jepang

Pernahkah Anda patah hati?!

Fiuh, banyak orang bilang berjuta rasanya. Pait pun terasa manis. Biar malam, biar siang terbayang wajahnya….Ups..itu kan jatuh cinta yah.

Maaf…maaaaf….
Kalau patah hati, nih dia…. Jangankan konsentrasi kerja. Buat ngurus diri sendiri aja bisa terlewatkan.
Dunia isinya si *dia* ajah. Mikir dikit ajah, tau-tau bayanganya nongol. Bahkan ada makanan- makanan kegemaran kita tersaji, teteeeeep aja….dia….isinya.
Bukannya ngiler, tapi malah air mata berlinangan. Malah kata Om Maggy Z, mendingan sakit gigi dari pada sakit hati (aih….jadul yak)

Woloh-woloh…kayaknya aku ikutan berlebihan ne…


Memang sih, yang namanya patah hati tuh tidak bisa dianggap sepele. Dibutuhkan perhatian ekstra. Minimal perhatian dari diri sendiri. Menyempatkan waktu untuk merenung sejenak, kemudian mencari solusi selanjutnya.
Saya pernah dapat nasehat dari temen. Gak pa’pa kalau mo nangis. Monggo aja nangis, tapi pakai timing, alias pakai waktu. Dan jangan lama-lama karena..live must go on.
Nah, itu kan kalau dari diri sendiri.

Yang ini unik lagi. Di Jepang, ada loh perusahaan yang memperhatikan kondisi karyawannya yang lagi patah hati. Dilansir dari situs berita Reuters, perusahaan itu namanya Hime & Company.
Pihak manajemen perusahaan ini sangat memahami “kegundahan” akibat patah hati. Makanya mereka memberikan fasilitas tambahan, yaitu fasilitas cuti patah hati untuk para karyawannya.
Dalam website resminya, yang ditampilkan di Kompas Cyber dijelaskan, “Banyak perusahaan yang memberi cuti melahirkan dan mengklaim telah berbuat baik untuk para perempuan… Saat sakit orang mengambil cuti, tapi tidak saat mereka patah hati. Padahal, dalam situasi demikian sangat sulit untuk bekerja, bahkan orang kerap membuat kesalahan dan melakukan hal-hal aneh.”

Singkatnya, pihak manajemen perusahaan tersebut sangat mengerti bahwa cuti patah hati bukan hanya efektif untuk karyawan itu sendiri, tapi juga untuk pihak perusahaan. Dalam kondisi mental yang terpuruk akibat patah hati, bisa jadi seseorang akan membuat keputusan yang salah, termasuk keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan yang akhirnya bisa merugikan perusahaan.

Setiap karyawan di perusahaan tersebut berhak atas cuti patah hati tersebut. Mereka yang berusia awal 20 tahunan boleh mengambil cuti ini satu hari dalam setahun. Sedangkan yang berusia pertengahan 25 tahun dapat jatah dua hari, dan yang berusia 30 tahun ke atas mendapat jatah tiga hari untuk berlibur mengobati patah hatinya.

Dalam masa cutinya, mungkin mereka bisa memesan kamar hotel, lengkap dengan sekotak tisue dan cokelat. Uhukkksss…..
Nah, keren nggak tuh kebijakan manajemen perusahaannya. Bayangin deh kalau kita juga bisa menerapkannya, dapat jatah untuk mengobati sakit hati. Tapi kalau dah lewat jatah cutinya, tetep sakit hati gimana yah??!!!
Banyakin doa aja kaleee…….

Posted by: wiek | Mei 13, 2008

Sumur Gumuling

Sumur Gumuling sebenarnya bukanlah objek wisata tersendiri. Situs ini merupakan bagian dari Komplek Tamansari.

Sumur Gemuling adalah sebuah bangunan melingkar yang di dalamnya terdapat ruangan-ruangan yang konon dahulu difungsikan sebagai tempat sholat.

Gemuling tuh bahasa Jawa, kira-kira artinya menggelingding atau melingkar. Dinamakan Sumur Gemuling, karena konon ceritanya tempat itu adalah sebuah masjid bawah tanah yang ditengahnya terdapat sumur.

Di bagian atas sumur tersebut terdapat 5 buah tangga yang merupakan simbol dari 5 rukun Islam. Empat buah tangga menghubungkan ke semacam pelataran kecil di tengah. Lalu satu tangga lagi menghubungkan pelataran kecil (luasanya sekitar 1,5 meter) menuju lantai atas.

Kenapa struktur bangunannya seperti itu? Nah gini nih, jaman dahulu belom ada spiker alias alat pengeras suara. Makanya masjidnya dibuat melingkar sehingga saat imam memimpin sholat, suaranya dapat terdengar oleh semua orang. Nah itu dia asal mula nama Sumur Gemuling, yaitu sumur yang dikelilingi oleh bangunan (masjid). Informasi ini biasanya akan mudah didapatkan dari bapak tua yang bertugas menjaga tempat itu.

Saat kami datang, bapak itu juga sedang membersihkan ruangan bagian bawah. Ketika kami keluar, tak lupa memasukkan selembar uang kertas sejumlah Rp**** (Nggak perlu disebut lah ya), seikhlasnya kok, kata si Bapak.

Begitu keluar, seperti juga ketika masuk, kami melalui sebuah lorong gelap. Lorong itu sebenarnya panjang, namun tidak boleh ditelusuri.

eiit...kepleset, gelap sih

Tuh kan, beneran gelap. Hiiiy…ada penampakaaan!!!!!

Waakkss…bukan dink. That’s me in da dark hihi….

Nah kalau kita jalan luruuuuuus aja teruuuuus….konon ceritanya, kita bisa sampai ke Laut Selatan (Pantai Parangtritis).

Asyik kan, ada jalan pintas ke pantai hehehe… Tapi neh, katanya sih nggak ada yang selamat dalam keadaan hidup-hidup.

Wah, batal deh niat mo nekat menyusurinya.

Abis ceritanya susah dinalar. Pa lagi kami juga gak bawa bekal, jadi takut juga sih. Kali ajah yang nggak selamat tuh karena mereka nggak bawa bekal juga kali yah?! Kan jauuuuh tuh kalau jalan kaki dari komplek Tamansari ke Parangtritis.

Do u wanna try???

Posted by: wiek | Mei 2, 2008

Tamansari …. Water Castle

Objek wisata kedua yang kami kunjungi adalah Tamansari atau yang biasa dikenal dengan sebutan Water Castle. Tamansari ini merupakan taman kerajaan atau pesanggrahan Sultan Jogja dan keluarganya. Namun sebagai informasi aja ne…selain Tamansari, ada beberapa tempat pesanggrahan Sultan. Diantaranya adalah Warungboto, Manukberi, Ambarbinangun dan Ambarukmo.

Tempat-tempat tersebut berfungsi sebagai tempat tetirah dan bersemadi Sultan beserta keluarga. Disamping komponen-komponen yang menunjukkan sebagai tempat peristirahatan, pesanggrahan-pesanggrahan tersebut selalu memiliki komponen pertahanan. Begitu juga hanya dengan Tamansari.

Pelataran depan Komplek Tamansari

Komplek Tamansari ini tidak jauh dari Kraton Sultan, hanya sekitar 0,5 km sebelah selatan. Kuambil informasi dari situs wisata, Yogyayes, arsitek bangunan ini mengadopsi arsitek bangsa Portugis. Jadi pas pertama kali ngeliat, seolah-olah bangunan ini memiliki seni arsitektur Eropa yang sangat kuat.

Lihat kan bentuk bangunannya yang tinggi-tinggi seperti bangunan-bangunan Eropa. Tapi meski begitu, beberapa makna-makna simbolik Jawa yang tetap dipertahankan.

Nih bagian dalamnya

Jika kita amati lebih jauh, makna unsur bangunan Jawa lebih dominan di sini.

Tamansari dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono I atau sekitar akhir abad XVII M. Tamansari bukan hanya sekedar taman kerajaan, namun bangunan ini merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari kolam pemandian, kanal air, ruangan-ruangan khusus dan sebuah kolam yang besar (apabila kanal air terbuka).

Secara umum ada tiga bagian dalam komplek Tamansari:

  1. Bagian Sakral
    Bagian sakral Tamansari ditunjukkan dengan sebuah bangunan yang agak menyendiri. Ruangan ini terdiri dari sebuah bangunan berfungsi sebagai tempat pertapaan Sultan dan keluarganya.
  2. Bagian Kolam Pemandian
    Bagian ini merupakan bagian yang digunakan untuk Sultan dan keluarganya bersenang-senang. Bagian ini terdiri dari dua buah kolam yang dipisahkan dengan bangunan bertingkat. Air kolam keluar dari pancuran berbentuk binatang yang khas. Bangunan kolam ini sangat unik dengan pot-pot besar didalamnya.
  3. Bagian Pulau Kenanga
    Bagian ini terdiri dari beberapa bangunan yaitu Pulau Kenanga atau Pulau Cemeti, Sumur Gemuling, dan lorong-lorong bawah tanah. (Bagian ini udah pernah ditulis di posting sebelumnya, dah baca kan)

penampakan dari atas

Nah, buat temen-temen yang belum pernah berkunjung ke Jogja, jangan lupa deh inget-inget objek wisata yang satu ini. Jadi kalau ada kesempatan ke Jogja, jangan ampe lupa berkunjung ke sini. Soalnya objek ini bisa dikatakan situs peninggalan sejarah yang masih utuh bentuknya.

Malahan sering juga loh dipakai buat bikin sinetron. Maksudnya jadi lokasi syuting gituuh…

Buat yang udah pernah datang, hehe…boleh-boleh ajah datang lagi. Sapa tau informasiku bisa bermanfaat. Kli ajah ada kesempatan jadi guide dadakan, kadang bisa loh kita jumpai bule-bule (Turis asing maksudnya red.) jalan-jalan ke situ. Tapi pinter-pinter aja ngelobinya, jangan ampe benturan ama guide lokal di situ.

Posted by: wiek | April 24, 2008

Report from my beloved city… Jogja

Setelah bersibuk-ria dengan segala rutinitas kerja selama sekitar satu tahun, akhirnya saya mendapat kesempatan untuk pulang kampung. Yeah..i was back to my belooved city…Yogyakarta.
Saya mendapat jatah libur cuti dari tanggal 13 April hingga 18 April 2008, dan waktu itu tak ingin saya sia-siakan begitu saja. Tentu saja tujuan utama dahulu yaitu sowan keluarga dulu. Setelah itu barulah bersilaturahmi dengan teman-teman yang masih “tersisa” di Jogja. Diantaranya Claudia Dewi, Tasiatun, dan Planiati Arliana. Fiuh, ternyata hanya mereka yang bisa saya jumpai.
Dan tak lupa, saya pun berkunjung ke lokasi penuh kenangan di masa lalu (woloooh). Diantaranya adalah Pulau Cemeti, komplek Taman Sari, dan my beloved campus… TP-UGM.
Ingin saya bagikan pengalaman pulang kampung pertama ini.
Of course this is my first time to back home. ‘Coz this is the 1st time i’m going to other city for a years.
Mulai dari Pulau Cemeti saja yah, karena ini perjalanan pertama berwisata. Saya pergi bersama seorang teman (Claudia Dewi).
PULAU CEMETI
Pulau Cemeti disebut juga dengan Pulau Kenanga

Pulau Cemeti
Ini adalah jalan masuk menuju komplek Pulau Cemeti

Mendengan kata Pulau Cemeti tentunya yang terlintas adalah sebuah daratan di tengah air. Tapi pulau yang satu ini sangat berbeda dengan perkiraan orang. Tempat yang disebut Pulau Cemeti ini adalah sebuah situs sejarah yang terletak di belakang Pasar Ngasem (pasar burung).
Pulau Cemeti
Ini adalah bangunan bagian bawah Pulau Cemeti

Pulau Cemeti juga disebut dengan Pulau Kenanga.
Pulau Kenanga atau Pulau Cemeti adalah sebuah bangunan tinggi yang berfungsi sebagai tempat beristirahat, sekaligus sebagai tempat pengintaian. Bangunan inilah satu-satunya yang akan kelihatan apabila kanal air terbuka dan air mengenangi kawasan Pulau Kenanga ini. Disebutkan bahwa jika dilihat dari atas, bangunan seolah-olah sebuah bunga teratai di tengah kolam sangat besar.

Bagaimana menuju Pulau Cemeti?
Jika kita berjalan dari Kraton Jogja, menyusuri Jalan Kauman lalu masuk ke komplek beteng selatan, langsung dapat terlihat situs tersebut. Berupa puing-puing bangunan tua yang tidak lengkap lagi.
Pulau Cemeti memiliki satu tangga di sisi kanan. Konon menurut cerita orang-orang (lebih tepatnya guide) setempat, tempat itu merupakan tempat yang didatangai raja-raja Jogja untuk melihat kondisi wilayahnya.
Dan konon kabarnya di sekitar bangunan yang tingginya sekitar 10 meter itu terdapat semacam danau buatan. Jadi untuk menuju tempat itu harus menggunakan perahu. Dari situlah julukan Pulau diberikan pada bangunan itu.

Jangan Nekad yah…
Pada satu dinding puing bangunan di bagian atas ditempel sebuah papan larangan.
Di situ tertulis jangan naik jam 9 malam. Perhatiin tuh…jangan nekat naik yah.
Bukan apa-apa, di situs itu gelap dan harus melalui tangga-tangga kecil dan rawan di malam hari. Apalagi pengamanannya hanya berupa pegangan dari besi.


Tuh kan…cuman besi pegangan yang kecil
Jika melihat ke arah utara, maka berdiri di atas Pulau Cemeti dapat melihat Kota Jogja. Jika langit cerah maka bisa terlihat Gunung Merapi.
Tapi jika kita beralih ke arah selatan, maka di bagian bawah terlihat bagian atap terowongan. Terowongan itu menghubungkan Pulau Cemeti dengan komplek Taman Sari (pemandian putri).

Posted by: wiek | April 10, 2008

Mengais Rejeki di Hutan Bakau

  • ABRASI yang terjadi di berbagai pulau di nusantara telah diketahui khalayak umum. Gelombang air akibat padatnya jalur pelayaran dan juga aktivitas penebangan hutan mangrove (bakau) yang nota bene menjadi pelindung tepian pulau. Bahkan penebangan yang terus saja dilakukan bisa menyebabkan hilangnya pulau-pulau akibat tingginya laju abrasi.

Namun di tengah dilematisasi abrasi yang mengancam pulau-pulau kita, ada sekelompok orang yang menggantungkan hidupnya dari perburuan kayu mangrove atau kayu bakau. Seperti Nuh, penduduk suku asli dan Wagiman yang tinggal di kampung Sesap, Meranti yang menggantungkan hidup dari usaha pembuatan arang atau kilang arang.

MENYUSURI jalanan Desa Sesap, Kecamatan Tebing Tinggi, Bengkalis dengan mudah kita jumpai hutan bakau di sisi kanan dan kiri jalan.Tanaman yang tumbuh di rawa-rawa itu selain menjadi pelindung pesisir pulau, ternyata juga menjadi sumber nafkah beberapa warga di wilayah itu yaitu sebagai bahan dasar pembuatan arang kayu.

Wilayah itu memanjang hingga ke Sungai Sesap. Ada semacam pematang jalan yang membelah desa tersebut. Beberapa rumah panggung kayu yang umurnya telah tua pun dengan mudah kita temui jika menyusuri jalanan itu. Namun beberapa di antaranya adalah bangunan baru.Menurut warga setempat, bangunan itu merupakan bantuan dari pemerintah untuk tempat tinggal penduduk suku asli yang masih ada di situ. Tapi tak semuanya mendapatkan rumah bantuan tersebut.Nuh (63) termasuk yang tak mendapatkannya. Bersama sang istri, ia menempati pondok yang tak bisa dikatakan bagus.

Dilihat dari tampilannya saja, kayu-kayu penyangganya tidak lagi berdiri tegak. Sudah miring beberapa derajat.Rumah itu tidak bisa langsung dilihat dari jalan utama desa. Perlu melewati sebuah jembatan kayu selebar satu meter dan panjang dua meteran. Setelah itu disambung dengan jalan tanah yang seolah-olah menembus hutan bakau. Sekitar 50 meter, barulah ketemu pondok kayu milik Nuh.Tak jauh dari pondoknya, yaitu sekitar 20 meter, terdapat sebuah bangunan yang mirip tungku raksasa. Sore itu, di hari Selasa (1/4) terlihat seorang pria tua bertelanjang dada sibuk dengan kapak besi dan batangan kayu bakau-nya.Tubuhnya kurus, tampak otot-ototnya menonjol di balik kulitnya yang telah keriput.

Namun ayunan kapak terus menganyun dan membelah kayu-kayu bakau.Nuh, panggilan bapak tua itu, kemudian memasukkan potongan-potongan kayu ke dalam tungku api.Nuh menyebutnya Kilang Arang. Sedangkan beberapa orang lain menyebutnya dengan panglung atau bangsal arang. Bentuknya melingkar seperti sebuah tunggu dari batu-bata dengan lebar sekitar 10 meter dan tinggi lima meter.Bagian atapnya ditutup dengan atap rumbia yang warnanya coklat kehitam-hitaman. Namun tak hanya atap yang ternyata berwarna hitam. Tanah di sekitarnya juga berwarna hitam. Tentu saja hitam, tempat itu merupakan tempat untuk memproduksi arang yang notabene berwarna hitam legam.

Seakan tak peduli dengan peluh yang menetes dari tubuhnya, Nuh mengambil kembali kayu-kayu bakau yang diameternya sekitar lima hingga 10 centimeter untuk dipotong dan dimasukkannya lagi ke dalam bara.Namun sesekali ia menghentikan aktifitasnya sambil tangannya menyentuh bagian ulu hati.”Kadang kala sakit di sini,” ujarnya tatkala Tribun bertanya kenapa berhenti. Kemudian Nuh menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.Pria yang memiliki tiga orang anak dan enam cucu ini telah bekerja menjadi buruh sorong kilang arang sejak tahun 2000. Ia bekerja hingga malam hari sebagai penjaga malam. Dalam sebulan ia mendapatkan penghasilan Rp 600 ribu.”Cukup lah untuk hidup sehari-hari,” terangnya.

Apalagi ia hanya hidup bersama sang istri karena ketiga anaknya sudah tinggal terpisah dengan mereka. Namun masih dalam satu kawasan yang terdapat sektiar 50 KK Suku Asli.Ada sekitar 16 kilang arang serupa di Desa Sesep, yang merupakan wilayah hunian masyarakat Suku Asli dan beberapa pendatang dari Jawa (transmigran).Kilang-kilang arang itu dimiliki oleh pengusaha-pengusaha Tionghoa, yang terlalu mereka kenal. Begitu juga dengan lokasi pemasarannya, tidak mereka ketahui dengan pasti. Hanya tau arang-arang bakau itu dibawa dengan kapal ke luar negri. “Kalau tak ke Singapura ato Melaka,” jawab Nuh pendek.Tak hanya Nuh saja, beberapa karyawan kilang arang lainnya memang tak pernah tau akan dibawa kemanakah hasil pembakaran yang bisa memakan waktu tiga hingga empat bulan itu.

Wagiran, kepala bangsal (kilang arang) pun mengakui hal itu.Meskipun pria berusia 35 tahun ini telah lama kerja di bangsal, namun ia tetap tak tahu pasti. Yang terpenting adalah usaha itu memberikan hasil baginya. “Satu bulan sekitar 700an ribu, tapi ada juga yang dibayar harian. Biasanya Rp 22 ribu per hari,” jelasnya.Pembuatan arang memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Para pekerja terus mengisi potongan kayu bakau hingga tungku penuh. Oleh karena itu jelas membutuhkan jumlah kayu bakau yang banyak.Seiring peraturan penebangan liar, pemerintah juga mulai membatasi penebangan hutan mangrove, terkait tingginya tingkat abrasi. “Itulah susahnya Mbak, sekarang susah dapat kayu. Makan apa kami kalau nggak kerja di sini, padahal kebanyakan warga sini bergantung pada kilang arang,” terang Wagiran.
Batang kayu bakau sangat diminati untuk bahan baku arang. Arang kayu bakau berkualitas tinggi. Begitu juga kayu bakarnya, karena mudah menyala meskipun masih segar.(ans)

Posted by: wiek | Maret 25, 2008

Demam NSP

DEMAM nada sambung pribadi atau juga dikenal dengan istilah NSP telah melanda berbagai kalangan masyarakat. Tak terkecuali di kota Pekanbaru. Yosefien Kenyawati, Supervisor Service Operation PT Telkomsel, Pekanbaru kepada Tribun mengakui adanya fenomena pemakaian nada sambung di kalangan pengguna telepon seluler (ponsel).

Dulu mungkin kita akan mendengar nada tunggu berupa suata tut…tut…tut… yang panjang apabila melakukan panggilan ke suatu nomor ponsel. Nadanya pun standar dan hampir bisa dipastikan sama saja untuk semua telepon.

Namun seiring perkembangan teknologi dan usaha operator untuk memberikan fitur bagi pelanggannya, muncullah fasilitas nada sambung pribadi atau yang juga disebut ring back tones. Nada sambung bisa berupa potongan lagu favorit. Bisanya diambil bagian refren-nya. Bisa juga berupa irama tertentu yang banyak disukai ornag.

Dengan nada sambung, kini suara tunggu yang standar dapat dirubah menjadi suara yang diinginkan. Dengan begitu, si penelpon akan dapat merasakan nuansa lain ketika menelpon kita.

Penggunaan nada sambung itu pun tak terbatas pada golongan tertentu. Melainkan sudah menjarah ke berbagai kelompok pelanggan. “Anak-anak SD pun sekarang sudah banyak yang pakai nada sambung,” ujar wanita berambut pendek itu.

Namun tak dipungkiri bahwa peminat nada sambung adalah pelanggan diusia muda. Dari remaja hingga orang dewasa yang masih di usia produktif. Dan banyaknya pelanggan seluler yang berminat dengan nada dering, tentunya menjadi pemicu bagi para provider untuk memberikan layanan terbaik mereka.

Seperti yang juga dilakukan oleh Telkomsel. Mereka bekerja sama dengan pihak musik untuk menyediakan berbagai macam lagu-lagu terbaru yang digemari. Dari situ jugalah, akhirnya bisa muncul tangga nada untuk nada dering.

Lagu yang tersedia pun bermacam-macam. Tersedia berbagai jenis aliran musik yang bisa disesuaikan dengan selera masing-masing orang. Tapi jenis lagu yang digemari bisa dilihat dari momen yang sedang berlangsung.

Yossy mencontohkan pada beberapa waktu yang lalu. Pada bulan puasa menjelang Lebaran, lagu- lagu yang sifatnya religius sangat digemari. Bahkan pelanggan nada dering bernafaskan religi meningkat tajam.

Hal itu jugalah yang menyebabkan adanya gangguan di sistem download nada dering. “Ada beberapa orang yang mengalami kesulitan download lagu,” ucap ibu satu anak itu. Itu terjadi karena sistem mengalami gangguan akibat banyaknya permintaan. Namun pihak operator selalu membuka diri dan membantu kesulitan pelanggannya, termasuk dalam proses download nada sambung.

Lalu bagaimana dengan cara download? Ternyata, menggunakan nada sambung tidak memerlukan cara yang rumit. Yang penting memiliki pulsa yang cukup karena biaya download nada sambung akan dipotong langsung dari pulsa. Ada beberapa cara, namun yang paling sering dilakukan adalah menggunakan metode kirim SMS. (ans)

Posted by: wiek | Maret 25, 2008

Sayap Burung

Saya kutip sebuah kisah dari buku Pak Guru Tulus. Semoga kisahnya nggak salah. Abis bacanya dah hampir dua tahun yang lalu hehe…

burung.jpg

Pak Tulus sedang menemani gadis kecil bernama Ami. Di depan mereka berdiri sebatang pohon beranting banyak. Di satu di antara pucuk ranting yang seakan-akan rapuh, mereka melihat seekor burung hinggap di situ.

Ami: Mengapa burung itu tidak takut kalau ranting bisa patah, Pak Guru?

Guru Tulus: Barangkali karena tahu bahwa dia punya sayap, Ami. Sehingga dia tau bahwa setiap saat dia bisa terbang jika bahaya datang.

Anak-anak ternyata memiliki kemampuan alamiah untuk mengundang keluar hal-hal terbaik dari diri seseorang untuk diberikan.

Posted by: wiek | Maret 18, 2008

Rika Kato Terpesona Intelektualitasnya Yusril

 Rika Kato Tolentino

Rika Tolentino Kato tampil anggung dengan balutan busana muslim dan jilban senada berwarna merah muda, Jumat (15/2) ketika mendampingi suaminya Yusril Ihza Mahendra dalama rangka kunjungan ke kantor Tribun Pekanbaru.

Wanita blasteran Jepang -Filipina ini merupakan istri kedua Yusril Ihza. Sosoknya sempat menjadi perbincangan khalayak ramai ketika tersiar kabar ia menikah dengan mantan Menteri HAM dan Sekretari Negara pada tahun 2006 yang lalu.

Bagaimana tidak, Rika yang usianya 20an tahun bersedia menjadi pendamping Yusril yang usianya 50-an tahun. Namun ternyata perbedaan usia yang jauh tidak menghalangi kebersatuan pasangan tersebut.

Wanita yang menguasai lima bahasa ini mengakui bahwa daya tarik utamanya pada sosok Yusril adalah intelektual. Selain itu Yusri merupakan orang yang sederhana. Sedangkan soal ketampanan, Rika mengatakan bahwa itu adalah sebuah pemberian. “Faktanya bisa dilihat semua orang,” ujar wanita yang murah senyum ini.

Selama ini Rika Kato menjalani aktifitasnya di Jakarta bersama suaminya. Tak begitu banyak aktifitas yang dijalainya. Sehingga ia lebih sering turut mendampingi sang suami dalam berbagai kunjungan ke berbagai tempat, termasuk kunjungan mereka ke Pekanbaru kali ini.

Namun diakuinya juga kalau ia sering kembali ke Filipina. Di sana ada usaha keluarga yang turut di kelola alumnus jurusan psikologi dari Assumtion College (AC) ini. Selain itu, ia kini juga berpikir-pikir untuk melanjutkan belajarnya untuk mengambil gelar master. Belum tau akan mengambil apa tapi inginnya tahun ini, paparnya.

Sementar itu ketidaklancarannya menguasai bahasa Indonesia tak menghalangi wanita kelahiran Makathi, Filipina ini. Ia pun juga tidak tertarik terlibat sebagai seorang politikus, namun Rika tetap setia di samping Yusril.

Semua itu merupakan wujud dukungannya kepada sang suami. Bagi Riak, apapun itu kegiatan Yusril asalkan baik dan ia melakukannya dengan bahagia, ia pun akan selalu mendukungnya. begitu juga dengan layar kaca yang mulai dijajal Yusril, menurut Rika itu adalah suatu hobi yang menyenangkan suaminya.

Bicara mengenai peran Yusril dalam sebuah lakon film, Rika tidak pernah khawatir jika suaminya menjadi bintang film yang hebat dan memiliki fan yang fanatik. Baginya semua itu hanya peran, akan tidak sama dengan kehidupan nyata. Dan ia pun tidak menemukan alasan untuk cemburu dengan fan tersebut.

Sesibuk apapun Yusril, ia bisa mengelola waktu dengan baik. Yusril pun dianggap sebagai orang yang mengerti mana yang menjadi prioritasnya. Penggemar novel karangan Sidney Shieldon ini juga tidak merasa kurang perhatian karena merasa selalu ada waktu berdua.
Bicara mengenai kecantikan dan kebugaran, Rika ternyata memiliki rahasia. “Keep happy,” ujarnya sumringah. Selain itu ia juga senang mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Apalagi waktu olah raganya sekarang tidak seperti dulu lagi. Mengerjakan pekerjaan rumah itu kan olah raga juga, guraunya. (ans)

Older Posts »

Kategori