Oleh: wiek | April 13, 2014

Sukses Bercerai pake Weaning With Love

Upss…bercerai apaan ne?! Jangan mikir yg macem² dulu ya. Krn yang dimaksud tu cerai susu’nya Qãndrã.
Sebenarnya usia Qãndrã belum genap dua tahun. Masih kurang sebulanan lagi untuk stop dapat jatah ASI.
Tapi ibu keburu dah preparing macem². Mulai dr nyiapin trik spy Qãndrã ga doyan ama nenennya, standby sufor tiap malem, nyetok jajanan ϑan beliin mainan baru utk mengalihkan perhatiannya saat minta nenen.
Daaaaan..ternyata persiapan ibu kebablasan, karena Qãndrã dengan mudahnya bisa cerai susu.
Jadi ceritanya, ibu udah khawatir karena di umur 1y11m, Qãndrã masih kenceng nenennya. Asal ibunya rebahan atau nyandar di kasur, langsung nerocos, “Ibu ntaa eneen”
Memelas gitu nadanya..ϑan berulang² ampe ga tega dengernya.
Akhirnya dpt saran dr sana-sini utk nakutin Qãndrã ama nenen. Percobaan pertama pake tumbukan daun kates. Kebayang kan paitnya :D
Setelah ditumbuk, dioles ke nenen. Dan hasilnya…Qãndrã loloos.
Horeeeeee!!!
Tumbukan kates diisep..dilepeh..diisep…lepeh lagi ampe paitnya ilang. Lalu lanjuuuut, nenen dengan nikmat.
Cara yang kedua, pake plester ϑan bilang kalo nenen ibu sedang sakit. Hasilnya, hari pertama sukses. Hari ke dua siang jg sukses, tp malamnya meraung2 ϑan nekat diisep ampe plesternya lepas.
Akhirnya jurus ke tiga dipakai. Dengan olesin pake saos sambal. Soalnya Qãndrã sensitif ama rasa pedas.
Hasilnya, dia menang lagi. Meski kepedesan, diulang lagi ϑan lagi sampai saosnya abis. Lanjuuuut nenen lagi.
Akhirnya ibu yg nyerah deh.
Toh, umur Qãndrã jg belum genap 2th. Jd biar aja deh nenen sesuka hati, sampe anaknya bisa dikasih tau ϑan rela utk berhenti nenen.
Selang beberapa hari, ibu iseng godain Qãndrã. “Masa dah gede masih nenen, malu ah.” Eh anaknya ketawa ϑan malu-malu, trus batal minta nenen.
Tiap dia bilang, “Ibu ntaa nen,” selalu batal kalo digodain gitu.
Akhirnya sekarang dah ganti kalimatnya.
“Ibu ntaa cucu,” yang maksudnya minta sufor. Atau “Ibu ntaa num,” yang maksudnya minta air putih
Hebaaat anak ibu, ternyata gak harus ditempel macem² nenen si ibu ya.
Jadi nyesel sendiri kalau inget… Tega banget si ibu ne nyiksa anak.
Ohya, td mbah uti di telepon nanya, ASI’nya penuh nggak? Klo anak berhenti nenen, penderitaan selanjutnya adalah nahan sakit krn ASI penuh.
Jawabannya: TIDAK!
Sama sekali gak ngerasain ASI penuh ampe “nggregesi” (bhs jawanya). Alias sakit ampe meriang.
Entah karena memang stok ASI menipis, atau efek membatasi frekwensi nenennya Qãndrã sebelumnya. Tapi proses menyapih anak ibu yang satu ini berlangsung dengan sukses.
Weaning with love…sama-sama nyaman utk Qãndrã ϑan ibu :)
Kadang aϑa juga sih Qãndrã iseng. Pas ibu rebahan, dia bilang, “Ibu nta nen,” sambil senyum²
Kalo ibu jawab, “eh..kok nen?” Dianya ketawa malu²
Lucunya anak ibuk…makasih atas kerja samanya ya Nak. Ibuk makin sayang sama Qãndrã. Gpp ya jatah nenennya kena diskon sebulan (^_^)
Masih aϑa tantangan selanjutnya, yaitu toilet training. Anaknya masih maju mundur…kadang mau masuk kamar mandi, tp msh lebih sering pipis ϑan pup di luar (╰_╯)

Oleh: wiek | Maret 27, 2014

Sinetron ini Berjudul Kabut Asap

maskerPenggemar sinetron harusnya tidak boleh ketinggalan dengan kisah yang satu ini. Kisah sinetron di kota keduaku, Pekanbaru. Sebenarnya lebih tepat kalau cakupannya Provinsi Riau.

Ini tentang “sinetron” kabut asap yang dialami warga Riau di awal tahun 2014. Yak, tahun 2014 menjadi tahun yang berkesan. Karena seluruh warga Riau, tanpa pandang bulu disajikan asap tebal hasil kebakaran hutan dan lahan.

Sejak tinggal di Pekanbaru (mulai tahun 2007), tahun 2014 ini yang paling parah. Mungkin komposisi O2 di udara sudah tidak sampai 50 persen. Udara amat sangat tidak nyaman untuk dihirup, tenggorokan terasa kering dan mata jadi pedih. Padahal….padahal ni ya, ibu dan Qandra hanya berdiam diri di rumah saja.

Pemerintah menganjurkan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Bahkan di dalam ruangan pun dihimbau untuk mengenakan masker. Oh mai goooot…mana tahan kalau pakai masker sepanjang hari. Apalagi untuk bayi gedeku, si Qandra.

Demo para aktivis sudah tak terhitung berapa kali. Kicauan di twitter dan di facebook juga tak terhitung jumlahnya. Bahkan broadcast message tentang asap, masuk hampir setiap hari di Blackberry.

Rakyat Riau mulai dari mengeluh, marah-marah, sampai akhirnya ikutan pasrah. Kayak Atuk Gubri Annas Maamun yang bilang dah pasrah pada Allah. Kalau dalam kisah sinetron, sudah terjadi pertentangan antar pemain hingga klimaks….

ISPU-Pekanbaru.jpgKlimaksnya adalah saat alat indeks pencemaran udara yang berada di pusat kota mencapai angka lebih dari 300 partikel debu (PM10). Artinya, status polusi udara sudah berbahaya (hazardous) untuk dihirup makhluk hidup.

Lalu…..tokoh utamanya datang. Eng ing eeeeeng……sang jagoan datang dengan pesawat terbang, langsung dari Jawa menuju Riau. Dialah Esbeye ato Presiden RI.

Lakonnya harus menghadapi konflik juga. Dia tak bisa mendarat langsung di Bumi Lancang Kuning. Akhirnya belok dulu ke Batam, dan beberapa saat kemudian sampai juga di Pekanbaru.

Yuhuuuu…lakonnya beraksi….bam–bim–bum….gerak sana-sini, marahin si anu si itu….kasih perintah ini itu….dan langsung saja….
Hari itu juga, hujan pun turun di Riau dan kabut asap hilang. Ruaaaar biasaaaa (mencontek Mario Teguh).
Dan berakhirlah kisah sinetron di negriku tercinta Indonesia.

Sungguh seperti kisah dalam sinetron.

Oh, terlalu pendek untuk jadi sinetron ya. Mungkin lebih cocok kalo disebut, mirip kisah di film India. Dimana lakonnya beraksi di akhir cerita dan menang.

Entahlah, haruslah saya senang dengan ending cerita itu atau tidak. Karena faktanya, belum ada satu bulan SBY menyelesaikan kabut asap. Sekarang sudah mulai muncul lagi asap tipis setiap pagi dan sore hari.
Sebagai ibu rumah tangga, tak banyak yang bisa saya lakukan. Kecuali mengurung kembali Qandra di dalam rumah, untuk meminimalisir asap yang dihirupnya.

Oleh: wiek | Maret 9, 2014

Ini Sih Bencana “Buatan”

ISPU-Pekanbaru.jpgHari ini, Minggu (9 Maret 2014) dapat broadcast message yg menyatakan udara di Pekanbaru dalam Level Berbahaya!
Benar-benar menyebalkan. Tapi nggak tau mo ngeluh ke siapa
Untuk ibu-ibu, kabut asap ini benar² menyiksa. Bukan sekedar menyiksa tubuh kita saja, tapi juga batin. Gimana nggak, si krucil Qãndrã ga juga sembuh dari batuk ϑan pilek. Udah seminggu lebih, idungnya meler ϑan sesekali batuk kering. Kasihan ngliatnya…
Anaknya masih aktif sih, tp kalau malas tidurnya gelisah. Idungnya mampet, bikin sesah bernafas lega…
Oh kabut asaaap…kapan mau enyah dari Bumi Lancang Kuning ini.
Sampai-sampai, ibu berharap kabutnya merembet ke provinsi lain ϑan negara Jiran (Malaysia, Singapura, Brunei). Soalnya klo org Riau yg teriak, solusinya lambat.
Mungkin klo provinsi tetangga ϑan negara tetangga yang ngomelin, baru deh diatasi.

Sudah jadi rahasia umum, kabut asap yang sering datang di Riau, termasuk Pekanbaru disebabkan aksi pembakaran hutan dan lahan (karhutla). Ditambah lagi struktur lahan terbakar, yang mayoritas gambut. Menyebabkan bara api tetap menyala di lapisan bawah, meskipun upaya pemadaman sudah dilakukan dari atas. Data terakhir, diperkirakan ada 20 ribu hektar hutan dan lahan yang terbakar di Riau.
Dan sudah rahasia umum juga, karhutla itu dilakukan para oknum. Baik itu oknum personal (warga yang ingin membersihkan lahannya) maupun oknum dari perusahaan yang ingin membuka kebun sawit.
Para oknum ini sepertinya sudah mati rasa dengan istilah ‘dosa’
Tak berpikir dampak jangka pendek ataupun panjang yang timbul karena ulah mereka. Seluruh masyarakat di Riau dipaksa untuk menghirup asap bakaran.
Itulah sebabnya ibu nulis judul, Ini Sih Bencana “Buatan” karena memang gak cocok disebut bencana alam. Ini lebih disebabkan karena ulah manusia.
Para oknum ini mungkin saja tak berpikir betapa banyak kerugian yang ditanggung masyarakat. Pelaku usaha kecil mengeluh turunnya omset, anak-anak kehilangan kesempatan untuk belajar di sekolah, banyak orang sakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) mendadak dan ayah Qandra….kehilangan hari libur bersama keluarga.
Huh…harusnya kan ayah pulang dari Palembang pada hari Minggu, tapi diundur hari Senin. Sungguh mengecewakan. Qandra tidak bisa jalan-jalan ke mal deh… (*lost focus)
Back to kasus Karhutla….
Ada info terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bancana (BNPB).
Titik api yang tertangkap Satelit NOAA 18 dan modis ternyata juga banyak dari Malaysia. Bahkan jumlahnya di atas titik api Riau.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho kepada pers di Pekanbaru, Jumat (7/3/2014) kecepatan pergerakan angin di atas 25 kilometer per jam menuju arah Riau. Ini memperparah asap di Sumatera, khususnya Riau.
“Namun itu butuh analisis lagi, sementara memang peluang itu ada berdasarkan dengan pantauan satelit dan analisa arah dan pergerakan angin,” katanya.
Sebelumnya Kepala BNPB Syamsul Maarif mengatakan, kebakaran lahan dan hutan merata terjadi hampir seluruh wilayah Perhimpunan Negara Asia Tenggara (ASEAN) seperti Thailand, Laos, Vietnam, Malaysia, Kamboja dan Indonesia.
Oooo emmm jiiii….asaap….dari mana pun asalmu, segeralah enyah dari Kota Pekanbaru. Kasihan kalau Qandra kemana-mana harus pake masker

Oleh: wiek | Februari 24, 2014

Pertama X Denger Encik Bilang “Dadah Ibuk”

“Dadaaah ibuuuk,” kata Qãndrã tadi, pas liat ibu nyalain mesin sepeda motor. Dia bilang gitu sambil asik main sepeda ma nenek.
Dooh…langsung mak jleb di dada ne.
Rasanya belum ikhlas. Belum bisa nerima kalo Qãndrã udah ga nangis lagi pas ditinggal pergi.
Gini ternyata rasanya seorang ibu klo kehilangan perhatian anaknya. Aiiih..lebay si ibu ne *toyor pala sendiri*
Dari kemaren bingung ϑan selalu khawatir kalo Encik Qãndrã nyariin emaknya terus. Krn hampir tiap sore dititip ke t4 cuya ϑan nenek, pas ibu mo jaga lapak di Arifin Ahmad.
Pas pergi pun juga ngumpet² spy anaknya ga sadar klo emaknya pergi.
Eh tiba² aja tu anak langsung bilang “Dadaaah Ibuuk”
Terharu krn Qãndrã udah mulai bisa lepas ϑan ga tergantung ama ibu terus-terusan. Tp juga sedih, takut, khawatir kehilangan perhatian Qãndrã.
Tanpa sadar, anak² tumbuh dengan cepat, makin pandai, makin dewasa ϑan makin berkurang intensitas bersama orang tuanya.
Aϑa rasa bahagia ϑan juga sedih saat kita menyadarinya.
Benar kata Mbah Uti Jogja, di mata orang tua, anak itu tetap anak kecil yang ingin selalu disayang ϑan ditimangnya meskipun umurnya terus bertambah.
Kejadian hari ini membuat ibu jadi ingat sama mbah Jogja..jadi kangeeen. Terbayang gmn perasaan mbah waktu ibu memutuskan utk jadi penduduk Pekanbaru. Pindah ke tempat yang jauh..terpisah pulau ϑan bakal ga bisa dijumpai setiap saat kita rindu.
Teman, jika orangtuamu dekat ϑan bisa dijenguk setiap saaat, nikmatilah itu. Karena saat kamu tak memiliki kesempatan itu lagi, hanya penyesalah yang aϑa.
Jangan juga berpikir, telepon ϑan alat komunikasi modern kan banyak. Karena itu tak sebanding dengan momen bertemu secara langsung. Melihat mereka tersenyum, duduk ϑan makan bersama, melihat guratan keriput yang semakin bertambah di wajah ϑan kulit mereka, melihat kebahagian di mata mereka…
Jangan lewatkan momen berharga itu. 工 レo√乇 ㄚ◯∪ Bapak ϑan Ibu *siap² daftar TM biar bisa ngobrol lama sm mbah*

Oleh: wiek | Februari 5, 2014

Belajar Jadi Ibu Multitasking

Qandra jaga lapak

Qandra jaga lapak

Beberapa hari ini, si ibu dapat kesibukan baru. Yaitu mulai bantu-bantu di portal berita punyanya ex kawan kerja.
Portalnya bernama http://www.bertuahpos.com
dengan segmentasi berita² seputar ekonomi.
Memegang portal berita sebenarnya bukan hal yang baru. Krn sebelumnyaa, di tempat kerja lama juga pernah dapat tugas di portal berita. Lagipula, segmen ekonomi jg merupakan desk terakhir yang dipegang ibu, sebelum memutuskan untuk resign.
Tapi yang membuat jd pengalaman baru adalah, sekarang bekerja saat udah punya satu buntut..yaitu Qãndrã
Selain itu, usaha di FB: Baju Bayi ϑan Anak Pekanbaru juga baru saja mulai dirintis secara offline. Ibu joinan dengan ex kawan kerja juga, buka lapak di Ps Pujasera Arifin Ahmad Pekanbaru.
Jadi sekarangop harus belajar jadi ibu yang mampu beraktivitas secara multitasking. ƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑ capee deee..
Baru beberapa hari berjalan..rasanya jatah waktu sehari dapat 24 jam tu terasa kurang.
Untung saja dapat kemudahan untuk bisa bekerja dr rumah. Jadi laptop jarang istirahat. Pagi sampai sore dinyalain terus…welcome back my lepi. Dua tahun lebih kita jarang kerja lembur lagi ya :) Semoga aja si lepi masih tahan banting.
Aiiih…ini malah asik posting blog. Masih aϑa yg keteteran… Baju untuk dikirim ke Jambi ϑan Siak belum juga disiapi
Ibuuuk..oh ibuuk….kerja laaagiiiih oi!!!
​ƗƗɐ..ƗƗɐ..ƗƗɐ..ƗƗɐ.. Hayuuk jd ibu multitasking!

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.150 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: