Pekanbaru, pukul 08.07 WIB (lokasi: masih di kamar kost)
“Selamat pagi Mbak..” suara seorang pria yang asing di telingaku, menyapa dari seberang telepon genggamku.
“Pagi, siapa ini ya?” tanyaku kemudian.
“Saya H****a yang kemarin datang ke kantor,” balasnya
“Oh, Mas ***ya. Gimana Mas, ada apa ya?” jawabku sambil merubah posisi. Tadi kan posisinya tidur (*jangan-jangan kliatan banget malasnya, jam segitu tapi belum beranjak dari tempat tidur). AKu duduk, masih di kasur sih, lalu sedikit menurunkan nada suara supaya terdengar lebih berwibawa (ceileee…)
“Gini Mbak, saya sudah baca tulisannya. Saya ucapkan terima kasih sudah dimuat, *bapak* juga sudah saya beritahu dan sudah membaca. Tapi gini, ada beberapa content-nya yang salah,” papar pria dari seberang telepon.
“Salah gimana ya, Mas?” tanyaku seolah-olah tanpa dosa.
“Ada beberapa, yang pertama soal penulisan DPC, di situ Mbak tulisnya DPP, padahal itu kan tingkat kabupaten kota, jadi bukan DPP melainkan DPC. Yang kedua soal pemilihan umum, saya maksudkan pilkada dan bukannya pilgubri,” lanjutnya.
“Oh gitu. Lalu maksud Mas H****a gimana?” jawabku.
“Masih ada lagi Mbak. Soal tiga poin yang digusung partai P**, kan salah satunya kami sebutkan dukungan kepada Pak Th****R. Kok gak disebut ya?”
“Hum, kalau itu masalah editing Mas. Saya memang punya kewajiban nulis, tapi atasan saya punya hak untuk mengedit. Jadi itu sudah wewenang atasan saya untuk menghilangkan content yang dirasa bisa dihilangkan,” jelasku.
“Lalu gimana kalau dinaikkan lagi. Semacam ralat, gitu,” pintanya.
“Waduh, susah itu Mas. Saya akui salahnya dan minta maaf. Tapi kalau menaikkan lagi rasanya susah. Apalagi nggak ada peristiwa lain yang kuat. Kemarin pun sebenarnya gak bisa, tapi ada pertimbangan khusus makanya bisa naik,” kembali lagi kuberikan pemaparan padanya.
“Iya, jadi gimana ya Mbak baiknya?” nada suaranya sedikit melemah.
“Gini aja, gimana kalau pas besok ada peristiwa atau acara, Mas beritahu lagi. Siapa tau nanti sekalian bisa memberi keterangan lebih rinci,” tawarku.
Setelah tawaran itu, H***a pun tidak banyak protes. Berbasa-basi sebentar kemudian mengakhiri pembicaraan.
Yah, sebenarnya sejak orang itu datang ke kantor yang menyatakan tujuannya aku sudah punya rencana *Jail* Kusebut jail soalnya emang udah terpikir akan ada yang kuilangin dari informasi yang diberikannya. Dan informasi ini nggak begitu penting menurutku, tapi sebenarnya cukup vital buat dia.
Dia pasti ditanya sama *si bapak* yang jadi sponsor utamanya, kenapa tidak menaikkan namanya. Kurasa tujuan utamanya datang ke kantor pun gak jauh dari maksud itu. Menyampaikan dukungan terhadap satu tokoh yang akan melaju ke pilkada mendatang.

Pilkada merupakan sebuah hasil ujian (test) loyalitas dari kader-kader partai. Saat-saat jelang pilkada, para kader biasanya “jor-joran” dalam melakukan manuver-manuver politiknya. Di era itulah mereka pun dituntut untuk terus beraktivitas untuk menggalang massa sebanyak-banyaknya. Termasuk memanfaatkan pers. Yah, menyambut pilkada, nuansa di masyarakat pun terasa kental dengan nuansa politis (saya tidak ingin masuk ke ranah politik uang, karena tentunya sudah banyak tulisan yang mengulasnya).
Sepenggal dialog melalui telepon di atas hanyalah pengalaman kecil dari saya yang menjadi bagian dari insan pers, yang sudah barang tentu menghadapi banyak godaan di seputar pilkada. Yang saya alami, jelas belum seberapa dibanding teman-teman yang lain. Tapi cukup memberikan gambaran…meski pilkada belum mulai. Semangat volunterisme sudah muncul sejak dini.
Partai atau tokoh apa nih yang Anda dukung? Sudahkah bersiap menjadi volunter²?
Hihi…that’s up to you. Mudah²an aja pilkada ke depan dapat memunculkan tokoh yang bisa membangun bangsa. Bukan sekedar tokoh yang kuat dukungan tanpa memiliki kompetensi yang pantas